GEOGRAFIS DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
A. Letak Geografis
Daerah Istimewa Yogyakarta terletak pada kurang lebih 114 meter diatas permukaan laut. Daerahnya yang kurang lebih berbentuk segi tiga terletak di antara : 110° BT -110° BT dan 7°32 LS - 8°12 LS. Secara administratif Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai status sebagai daerah tingkat satu yaitu sebagai Pravinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah-daerahnya dibatasi oleh :
- sebelah Timur : Jawa Tengah
- sebelah selatan : Samudra Indonesia
- sebelah Barat : Jawa Tengah
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri atas 4 Kabupaten dan 1 Kotamadya, yaitu : Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Sleman dan Kotamadya Yogyakarta.
Berdasarkan Topografinya daerah Istimewa Yogyakarta terbagi menjadi 3 zone yaitu : zone timur,zone tengah dan zone barat.
Daerah zone Timur pada umumnya berupa daerah pegunungan kapur selatan,dimana air sangat sulit diperoleh karena terdapat di bawah tanah. dearah-daerah yang termasuk zone timur ini adalah daerah yang berada di wilayah kabupaten Gunung Kidul sebagian daerah Kabupaten Sleman sebelah Timur yaitu sekitar pegunungan Bongkeh (Prambanan) dan sebagian daerah Bantul yaitu daerah Piyungan.
Daerah Zone tengah meliputi daerah-daerahdi Kabupaten Sleman, Kotamadya Yogyakarta dan sebagian dearah Bantul. daerah-daerah ini pada umumnya merupakan daerah pertanian sawah yang subur. kesuburan tersebut disebabkan oleh adanya pengaruh abu vulkanis dari Gunung Merapi. di samping itu juga daearah zone tengah ini dikelilingi pegunungan sehingga merupakan tanah ledok atau kom yang amat baik sekali untuk penyimpanan dan penanpungan air yang berasal dari sungai maupun air hujan.
Daerah zone Barat pada hakekatnya sama dengandaearah zone Timur. Dimana daearahnya terdiri dari pegunungan kapur yaitu patahan dari pegunungan Menoreh. dengan demikian air yangb ada juga terdapat di bawah tanah. Sehingga penduduk melakukan mata pencariannya dengan bercocok tanam,di ladang. Yang termasuk zone barat ini adalah daerah wilayah Kabupaten Kulon Progo.
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menurut unsure Makro morfologi di bagi atas:
- Daerah unit Gunung Merapi
- Daerah dataran endapan (alluvial plain) Yogyakarta –Bantul dan sekitarnya.
- Daerah pegunungan plateau selatan
- Daerah pegunungan kompleks Kulon Progo dan pegunungan kapurv Sentolo.
- Daerah dataran Alluvial pantai selatan
SISTEM SOSIAL
A. Stratifikasi Sosial
Stratififikasi sosial atau pelapisan sosial banyak dijumpai di berbagai kelompok masyarakat. Ukuran stratifikasi sosial atau perbedaan status kelompok-kelompok masyarakat berbeda satu dengan yang lain. Ada yang menggunakan ukuran kekayaan, pendidikan, darah bangsawan, atau kekuasaan dan lain sebagainya. Dengan adanya stratifikasi ini telah terlihat jelas besarnya pengaruh suatu kelompok maka semakin tinggi kedudukannya dalam masyarakan dan sebaliknya[1].
Pada masyarakat pedesaan di kota Yogyakarta, kekayaan tidak mendasari adanya stratifikasi sosial ini. Orang-orang yang dianggap memiliki kedudukan yang tinggilah yang dianggap orang yang memiliki kelebihan, misalnya kelompok pegawai pemerintahan. Di berbagai kegiatan dan dan jabatan pemerintah biasanya dipegang oleh kelompok ini. Kepala desa dan sekertaris desa, dan pengurus organisasi sosial biasanya dijabat oleh orang yang berpendidikan perguruan tinggi.
Lapisan lain yang mendapatkan posisi yang tinggi adalah pamong desa. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari antara pamong desa dan rakyatnya. Dalam suatu pembicaraan biasanya kepala desa menggunakan bahasa Jawa Ngoko, atau seandainya menggunakan bahasa Jawa Kromo pun masih dicampur dengan bahasa Jawa Ngoko. Sedangkan rakyat yang diajak berbicara biasanya menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil. Hal ini juga nampak jelas pada waktu ada pesta perkawinan, kepala desa menempati tempat yang sudah ditentukan yaitu kursi barisan paling depan.
Apabila ditinjau dari segi kepemilikan tanah, maka kelompok pamong desa merupakan lapisan paling atas. Kelompok ini tidah hanya memiliki tanah garapan sendiri tetapi juga memiliki tanah bengkok. Kelompok karangkopek atau kelompok lapisan bawah yang tidak memiliki tanah garapan hanya memiliki pekarangan saja. Sedangkan lapisan paling bawah adalah para pemilik tanah sempit atau sama sekali tidak memiliki tanah[2].
B. Ikatan Kekerabatan
Pada umunya sistem kekerabatan penduduk desa berdasarkan prinsip bilateral seperti umumnya yang terdapat pada orang Jawa. Dalam satu keluarga biasanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang belum menikah atau disebut keluarga inti. Namun, ada juga bentuk keluarga luar yaitu unit keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah dengan anak yang sudah menikah atau ada saudara lain yang ikut dalam keluarga itu[3].
Ikatan kekerabatan yang kuat pada seseorang biasanya ditandai dengan saling mengunjungi dan saling membantu. Istlah yang digunakan pun umumnya sama seperti menyebut saudara dari pihak ayah atau ibu menggunakan istilah bulik, budhe, pakdhe atau paklik. Bahasa yang digunakan pun berbeda, bahasa yang digunakan anak untuk berbicara terhadap orang tua nya menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil.
C. Kepercayaan
Bagi masyarakat Yogyakarta kepercayaan terhadap agama merupakan suatu yang tidak di tinggalkanya. Bahkan Sultan mereka mendapat gelar dan predikat panotogomo yang berarti pengatur dan pelindung agama[4]. Sejalan dengan itu di Yogyakarta setiap aliran agama, yang mendapat pegakuan dari pemerintah, bebas dan berhak mengembagkan ajaran-ajaran yang dipercayainya. Di daerah ini agama-agama yang paling banyak penganutnya ialah agama Islam, Kristen, baik Katholik maupun Protestan, Hindu dan Budha. Adanya kebebasan untuk menyebarkan ajaran-ajaranya, memberi kemungkinan kepada kelompok agama-agama untuk mendirikan tempat-tempat ibadah mereka, malah pembangunan tempat ibadah-ibadah mereka selalu mendapat bantuan dari pemerintaah, baik pusat maupun daerah. Kegiatan untuk itu tidak jarang dilaukan secara bersama, bahkan dari agama lainya. Sehubungan dengan itu pada tahun 1952 jumlah masjid yang berada di daerah Yogyakarta sebanyak 496 buah, langgar 3015 buah, sedangkan geraja sebanyak 64 buah. Keadaan ini tentu telah berubahan, dalam arti kata jumlahnya sampai sekarang makin bertambah banyak. Di Yogyakarta ada beberapa tempat ibadah yang cukup terkenal karena bentuknya yang menarik, seperti masjid besar di komplek kraton dan greja Katholik di Kota Baru. Sejak dulu daerah Yogyakarta merupakan tempat subur bagi pertumbuhan aliran-aliran kebatinan. Pada tahun 1952 di Gunung Kidul terdapat 4 buah organisasi kebatinan, di Bantul 21 buah, di Sleman 3 buah, di Kulon Progo terdapat 4 buah dan di Yogyakarta 4 buah. Besar dari setiap anggota organisasi kebatinan itu berbeda jumahnya tetapi jumlahnya berkisar dari puluhan orang sampai ribuan orang.
Dewasa ini aliran kebatinan termasuk apa yang disebut kepercayaan makin mendapat tempat di masyarakat oleh arena adanya kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan dirinya. Mereka sudah mendapat pengakuan resmi dari pemerintah, dan setiap tahun pada tagggal 1 suro mereka merayakan hari besar mereka. Juga sebagaimana agama lainya, aliran kepepercayaan ini telah mendapat hak untuk menyebarkan ajaranya melalui media masa resmi pemerintah seperti televisi[5].
D. Budaya Upacara
1. Upacara gerebeg dan sekaten
Upacara gerebeg maulud tidak bisa dilepaskan dengan perayaan sekaten sebagai tradisi keagamaan yang berlangsung dari tanggal 5 sampai 12 rabiulawal, upacara sekaten ialah upacara tradisional yang berkaitan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Upacara ini secara periodik diselenggarakan oleh pihak kraton kasultanan Yogyakarta setahun sekali dengan penyelenggaraan upacara gerebeg maulud.
Upacara sekaten ini berawal dari kerajaan demak dengan raden patah sebagai rajanya yang pertama. Agar menarik perhatian masyarakat, maka selama sekaten dibunyikan dua gamelan Nyai dan Kyai Sekati dengan gending 16 macam gubahan para wali.
Perayaan sekaten ini akhirnya ditetapkan menjadi suatu tradisi resmi sejak kerajaan islam pindah dari demak ke pajang, dari pajang ke mataram lalu ke Surakarta dan Yogyakarta. Untuk Yogyakarta dua gamelan ini disebut dengan nama kyai gunturmadu dan kyai nagawilaga yang ditempatkan di bangsal pagongan.
Dan sekarang upacara gerebeg dan sekaten merupakan penunjang pariwisata di Yogyakarta khususnya dalam bidang kebudayaan, karena banyak wisatawan lokal dan asing banyak datang untuk menyaksikan upacara adat ini[6].
2. Upacara kehamilan dan kelahiran
a. Upacara ngebor-ngebori
Ngebor-ngebori adalah selamatan yang dilakukan pertama kali pada saat kehamilan satu bulan. Selamatan ini hanya berbentuk membuat sesaji, sesaji ini terdiri dari air yang dilengkapi dengan bunga setaman dan jenang abor abor, yaitu semacam jenang sungsum tetapi tanpa juruh[7].
b. Upacara nglimani
Nglimani adalah selamatan yang dilakukan pada saat bayi berusia lima bulan dalam kandungan. Selamatan nglimani ini dilakukan secara besar, yakni ada kenduri dan sesaji, sesaji pada saat nglimani ini selalu berupa 5 macam antara lain ketupat 5 buah, jenang 5 macam (jenang bekatul, merah, putih, merah putih, baro-baro), rujak-rujakan 5 macam ( rujak madu, degan, tape, nanas, jambu), sambal 5 macam (sambal goreng, tempe, wijen, jagung dan kacang), tumpeng 5 macam dan telur 5 buah selain itu sesaji ini ditambah dengan gudeg, sayur ketok (sayur gurih yang bahannya merupakan tempe, kluwih, waluh), jublek, gudangan, ingkung ayam, lalaban dan ditambah dengan daging dan jajanan pasar. Nglimani ini bertujuan untuk memohon keselamatan pada tuhan dan leluhurnya agar ibu dan bayi yang dikandungnya dalam keadaan selamat.
c. Upacara Mitoni
Mitoni adalah selamatan yang dilakukan pada saat bayi berumur tujuh bulan dalam kandungan, upacara ini bahkan dilakukan cukup meriah bagi mereka yang mampu dan berkelebihan. Menurut kepercayaan penduduk gadingharjo, janin yang berumur 7 tujuh bulan itu sudah menjadi bayi yang sudah siap lahir ke dunia. Upacara mitoni ini di desa gadingharjo dibedakan menjadi 2 macam yaitu mitoni untuk wanita yang hamil pertama kali dan wanita yang hamil kedua dan seterusnya, bagi wanita yang hamil pertama upacara mitoni dilakukan dengan upacara siraman, sedang wanita yang hamil kedua dan seterusnya hanya dibuatkan selamatan kenduri. Secara umum tujuan dari mitoni ini adalah agar waktu melahirkan kelak si ibu dan anak dalam keadaan selamat dan sehat wal afiat[8].
d. Upacara penanaman ari-ari
Pada waktu menanam ari ari di tanah tidak ada upacara khusus akan tetapi ada tata cara/adat istiadat tersendiri yang sangat sacral, caranya adalah pertama kali ari ari dicuci bersih oleh dukun atau bapak dari si bayi, setelah itu dimasukkan dalam suatu tempat dan dikuburkan di dalam tanah[9].
E. Kependudukan
Di bawah ini disajikan data penduduk Yogyakarta pada tahun 1900-1990 :
Penduduk Kota Yogyakarta Tahun 1969-1990-an[10]
________________________________________________________________
Tahun: Jumlah Penduduk
-------------------------------------------------------------------------------------------------
1969 387 023
1970 390 363
1971 343 293
1972 346 894
1973 353 857
1974 356 699
1975 360 287
1976 363 302
1977 367 705
1978 375 692
1979 374 641
1980 398 192
1990 412 052
1999 490 433
________________________________________________________________
Sumber: Pemerintah Kota Yogyakarta, Buku Saku Kota Yogyakarta, 1995-1999.
Dari data tabel jumlah penduduk di atas kita perhatikan bahawa jumlah penduduk kota Yogyakarta tidak bertambah secara signifikan. Hal ini menunjukan sedikitnya orang yang melakukan imigrasi dan emigrasi di kota Yogyakarta.
Salah satu yang menarik dari kecenderungan pada masa mutakhir kota Yogyakarta pada hakekatnya adalah posisinya yang semakin kuat menjadi Kota Nasional atau “Kota Indonesia”, tercermin dari komposisi penduduknya yang secara plural terdiri dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia seperti yang terdapat dalam Tabel berikut ini.
Penduduk Kota Yogyakarta Menurut Suku Bangsa
Tahun 1980-an[11]
___________________________________________________________
Suku Bangsa Jumlah Penduduk
______________________________________________________________
1. Jawa 355 232
2. Sunda, Priangan 6 429
3. Melayu 5 019
4. Cina 6 255
5. Batak, Tapanuli 2 768
6. Minangkabau 1 813
7. Bali 660
8. Madura 1 358
9. Lainnya 16 837
Jumlah 396 371
___________________________________________________
Sumber: Sensus Penduduk 2000 Kota Yogyakarta.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Yogyakarta adalah sebuah wilayah yang terletak di wilyah Jawa Tengah yang memiliki sebagian daerah yang terdiri dari pegunungan kapur dan juga daerah subur yang. Sisitim pemerintahannya sampai sekarang masih berbentuk kesultanan yang diberi otonomi oleh republic Indonesia untuk menjalankan pemerintahannya selaku bagian dari Negara Indonesia. Sistim masyarakatnya masih sangat memegang teguh adat dari kesultanan tersebut terbukti dengan di adakan upacara-upacara adat seperti upacara grebeg mulud, upacara ari-ari, upacara mitoni dan ngilmani serta ngebor-ngebori.
Masyarakatnya walaaupun masih memegang teguh adat tetapi mereka tidak meninggalkan masalah keyakinan yakni agama. Di Yogyakarta tedapat beberapa agama yang tumbuh subur, hal tesebut terjadi karena sultan selaku pimpinan tertinggi membebaskan mereka untuk memeluk agama yang di yakininya bahkan sulta membebaskan mereka untuk mengembangkan dan menyebarkan agama mereka masing-masing.
[2] Dra. Sumintarsih, dkk. Sistem kepemimpinnan di Dalam masyarakat pedesaan Daerah Istimewa Yogyakarta.Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1991. hal 33-34
[5] ---.Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1976. Hal 350-351
[6] [6] Dra. Ani Rostiyati, dkk. Fungsi Upacara Tradisional: Bagi Masyarakat Pendukungnya Masa Kini. Daerah Istimewa Yogyakarta: departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1994. Hal 75-83
[7]Ibid. Hal 33
[8] Ibid. hal 35
[9] Ibid. hal 47
[10] Freek Colombijn. Dkk. Kota Lama Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia.Jogjakarta: Ombak. 2005 halm 39
[11] Ibid. halm 40
Tidak ada komentar:
Posting Komentar