Ada tiga peradaban yang mempunyai peranan penting terhadap pembentukan tradisi keilmuan dan pemikiran politik barat, yaitu peradaban Yunani-romawi, Peradaban yahudi-kristiani, dan peradaban Islam. Dalam hal ini saya hanya akan mengulas mengenai peradaban Islam dan kontribusinya terhadap peradaban Barat.
Banyak yang beranggapan bahwa peradaban islam merupakan copy dari peradaban Yunani-Romawi. Namun, bagi para pemikir Islam kasik, hal ini bukanlah sebuah kesalahan besar jika menerima warisan ilmu dari manapun datangnya. Bahkan mereka tidak alergis terhadap peradaban Mesopotamia, Bizantium, Persia, Hindu dan Cina. Hal ini dikarenakan Islam adalah agama yang terbuka dan toleran terhadap berbagai pengaruh peradaban asing sejauh tidak bertentangan dengan prinsip ketuhanan dan mampu memperkaya tradisi keilmuan Islam. Sejarah membuktikan bahwa dalam penaklukan-penaklukan Islam tidak diiringi dengan penghancuran peradaban-peradaban lokal negeri-negeri yang ditaklukan. Islam membiarkan dan memperkaya peradaban negeri-negeri yang ditaklukan tersebut. Umat Islam menerima warisan Yunani-Romawi juga warisan peradaban dari negeri taklukan mereka karena watak mereka yang kosmopolis dan universalis.
Dalam hal ini saya akan mengemukakan kontribusi peradaban Islam terhadap lahirnya peradaban Barat. Sebelum abad XIII, Eropa masih diliputi abad-abad kegelapan (Dark Ages). Tradisi ilmiah masih dianggap musuh agama dan penghianatan ajaran al Kitab dan Yesus Kristus. Eropa mulai mengalami proses pencerahan intelektual setelah terjadi kontak dan interaksi intensif dengan peradaban Islam, baik melalui perdagangan maupun pengiriman mahasiswa Barat ke dunia Islam.
Perang Salib yang berlangsung selama dua abad menjadi tonggak penting dalam interaksi antara peradaban Barat dengan Islam. Dengan adanya perang Salib mulailah terjadi kontak dagang, pertumbuhan merkantilisme dan proses pertukaran budaya. Dalam hal ini peradaban Barat telah jauh lebih banyak belajar dan mengambil manfaat dari peradaban Islam daripada sebaliknya.
Contohnya, peradaban Islam di Spanyol telah berhasil memperluas kebesarannya ke penjuru Eropa. Dan dari sini pulalah, Eropa mulai merambah kearah pencerahan intelektual dan Barat telah berhasil menghancurkan dogma-dogma yang mengungkungnya selama berabad-abad dan merintis jalan bagi usaha pengembangan dan tradisi keilmuan.
Pada zaman Renaisance, tadisi keilmuan tidak secara langsung mewarisi peradaban Yunani, sebab baru setelah melalui terjemahan dan komentar dari sarjana dan filosofi Islam kebudayaan Yunani kemudian dijadikan objek kajian akademis zaman Renaisance.
Perpindahan peradaban Islam dari Spanyol dimungkinkan karena usaha terjemahan yang diperitahkan Alphonse X Raja Castille. Di Sicillia, Micael Scotus menterjemahkan karya Ibnu Sina dan karya Ibnu Rusyd yang merupakan kritisi dari karya-karya Aristoteles. Melalui Ibnu Rusyd, dunia Barat mulai menganut kebebasan berfikir dan menyerap kekayaan intelektuan Yunani Kuno.
Para murid Kristen juga yang telah selesai belajar ilmu pengetahuan dari filosof Muslim Arab Andalusia (Spanyol) kemudian kembali ke Eropa dianggap sebagai kaum revolusioner oleh pendeta-pendeta Kristen di negerinya. Hal ini terjadi karena kedatangan meraka membawa perubahan-perubahan besar dan radikal di Eropa[1].
Hal-hal di atas lah yang menunjukan bahwa peradaban Islam telah memberikan kontribusi terhadap peradaban Barat yang tumbuh besar sekarang ini. Namun, di abad-abad lampau kontribusi warisan intelektual Islam enggan untuk diakui. Selama ratusan tahun, barat menyangkal kontribusi warisan intelektual peradaban Islam ini.
[1] Suhelmi, Ahmad. Pemikiran Politik Barat: Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan. PT. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta. 2001. Halm 16-24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar