PENDAHULUAN
Perang yang terjadi antara Amerika dan Irak pada tahun 19 Maret 2003, kini memberikan dampak yang sangat berkepanjangan bagi rakyat Irak. Sering kali tiap kita dengarkan berita di TV maupun di radio ataupun media massa berita internasional maupun nasional yang mengabarkan keadaan Irak dari 2003 sampai 2007 lalu, bahkan sampai tahun ini dampak tersebut masih terasa. Peperangan yang terjadi di Irak kini telah berdampak bagi negara tersebut. Rakyat Irak kini banyak sekali yang harus kehilangan harta benda mereka bahkan nyawa pun ikut menjadi hilang karena dihujani timah panas dan rudal..
Keadaan Irak kini semakin tidak pasti dan penuh dengan konflik, lalu seperti apa sebenarnya konflik yang ada dalam masyarakat Irak ini. Dalam makalah ini akan di jelaskan bagaimana konflik yang ada di bumi Irak dan bagaimana bentuknya. Penulisan makalah ini akan mebahas masalah konflik yang bersumber dari dalam dan luar seperti yang selama ini penulis amati.
Pembahasan dimulai ini sejak tahun 2003 tepatnya pada saat kota Baghdad dapat di duduki oleh tentara gabungan pimpinan Amerika. Pada tahun itu juga tepatnya pasukan gabungan pimpinan Amerika menguasai kota Baghdad dan dapat mematahkan perlawanan tentara Irak, walaupun sebenaranya masih ada perlawanan-perlawanan kecil di berbagai sejumlah daerah setelah mereka masuk tetapi hal tersebut dapat di atasi oleh pasukan pendudukan. Dan pembahasan ini penulis akhiri sampai tahun 2007, yang mana pada waktu itu pada tahun tersebut tantara pendudukan pimpinan Amerika dan sekutu kutunya mulai di tarik dari bumi Irak. Pembatasan tersebut di maksudkan agar pembahasan bisa terfokus dan topik tetap mendapat tempat sesuai dengan yang harapkan penulis serta tidak melebar pembahasannya.
KONFLIK DI IRAK PASCA INVASI AMERIKA
2.1 KONFLIK EKTERN
Masyarakat Irak yang terdiri dari berbagai suku, etnis dan dan aliran religi (Islam Arab Sunni dan Islam Arab Syiah) sangatlah sulit untuk bersatu tanpa adanya sikap saling menghormati dan kesadaran pada diri mereka, baik kaum minoritas maupun mayoritas. Pada masa Saddam masih berkuasa masyarakat Irak banyak tertekan oleh kepemimpinan Saddam yang menggunakan gaya kepemiminan Tirani untuk mengatur rakyatnya. Hal tersebut sangatlah membuat tertekan rakyatnya khusnya orang Islam Sunni dan etnis Kurdi. Saddam akan menyingkirkan siapa saja yang dianggap membahayakan kepemimpinannya termasuk kelurganya sendiri. Misalnya kedua saudara tirinya yaitu Barzan al-Tikriti yang di anggap menghianatinya dan tak loyal pada Saddam[1]. Kedua putrid saddam pun harus menjadi janda karena suami mereka danggap akan menghianatinya dan akhirnya di hukum mati bersama keluarganya.
Setelah jatuhnya Saddam dan partai Ba’atnya berbagai reaksi muncul dari mereka ada yang menunjukan dukanya ada pula yang sangat senang[2] karena kini mereka terbebas dari pengawasan sang diktator. Karena sangat bebasnya dan tak ada aturan yang harus di taatinya, kini masyarakat Irak bebar-benar bebas hingga kebebasan mereka tak tak terkontrol. Disana-sini banyak terjadi kekacauan, perampokan, penjarahan, pemerkosaan dll. Namun kebebasan yang di peroleh rakyat Irak itu hanya sementara saja karena kini masyarakat Irak harus menghadapi masalah lagi yaitu dengan masih adanya pasukan pendudukan pimpinan Amerika yang dulu dianggap sebagai pahlawan karena telah berhasil melepaskan mereka dari kekangan dan tekanan Saddam, tetapi sekarang tentara AS tidak mampu menjamin keamanan pasca perang usai dan malah telah melakukan hal-hal yang tidak pantas terhadap penduduk setempat. Selain pelecehan seksual, tentara AS juga melakukan penyiksaan yang berbau rasial terhadap para tawanan Irak di berbagai penjara Irak, terutama yang terungkap di penjara Abu Ghuraib. Karena itu, salah satu rekomendasi konferensi adalah meminta tentara pendudukan secepatnya keluar dari Irak[3]. Setelah mereka lepas dari cengkraman tangan besi Saddam kini mereka harus dihadapkan lagi dengan tentara Amerika yang belum keluar dari bumi Irak. Untuk menunjukan sikap protesnya terhadap Amerika kini banyak bermunculan kelompok-kelompok yang berjuang untuk mrngusir tentara pendudukan. Bom bunuh diri meledak di kota-kota yang sasaranya terutama tentara Amerika dan pasukan sekutunya.
Akibat dari perang kini banyak masyarakat juga banyak yang kehilangan pekerjaan, hingga mereka tak tau apa yang harus mereka lakukan untuk memberi makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Realitas ini menunjukkan, kehidupan sipil rakyat Irak relatif jauh "lebih baik" pada masa pemerintah diktator Saddam Hussein, hanya saja pada saat itu minus angin kebebasan karena Saddam mengontrol rakyatnya secara ketat dengan polisi rahasianya. Sekarang, tidak ada kepastian hukum dan jaminan keamanan, pengangguran membengkak luar biasa, penyelundupan dan kriminalitas merajalela, dan rakyat kekurangan pasokan listrik serta air bersih[4]. Kebebasan yang ada di manfaatkan mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari dengan cara apapun. Mereka tak takut untuk melakukan hal-hal seperti tindakan kriminal karena kini di negeri itu tak ada lagi hukum yang mengikat mereka seperti di rezim Saddam.
Irak yang dulu terkenal penghasilan terbesarnya dari minyak kini ekonomi menjadi kacau akibat perang. Sekarang sumur-sumur minyak tersebut belum dapat digunakan sebagaimana mestinya karena banyak mengalami kerusakan akibat pembombardiran yang dilakukan kapal-kapal perang Amerika dan sekutunya..
2.2 KONFLI INTERN
Tidak dipungkiri lagi setelah runtuhnya rezim Saddam Husain telah membuka kebebasan pada rakyat Irak. Rakyat Irak yang dulu hidup di bawah kekangan sang tangan besi kini telah bebas tanpa ada kontrol dari pihak manapun kecuali (pasukan pendudukan AS) sehingga hal tersebut menimbulkan berbagai tindakan dan aksi kekerasan yang tak terkendali. Penjarahan terjadi di mana-mana, angka kriminalitas meningkat drastis. Perampokan, penjarahan, pemerkosaan dan pembunuhan menjadi bagian keseharian di negeri tersebut. Irak adalah sebuah negeri yang pernah memiliki nama besar. Sejarah telah banyak bercerita tentang negeri tesebut, banyak para ilmuwan-ilmuwan Islam yang lahir dari Irak yang sampai sekarang ilmumya masih tetap dipelajari dan berguna bagi umat manusia bahkan orang orang barat sekalipun. Tidak jarang juga dalam buku-buku yang menyebut Irak sebagai ibu kandung peradaban umat manusia. Akan tetapi, perang telah mencabik-cabik negeri seribu satu malam tersebut, sehingga kini negeri yang sering di sebut sebagai ibu kandung peradaban telah ditinggalkan putra-putra bangsanya. Mereka merusak bukti-bukti keagungan dan keperdaban mereka sendiri[5].
Keadaan Irak pasca invasi pasukan gabungan pimpinan Amerika makin tidak karuan, boleh di bilang sesungguhnya perang belum berakhir. Salah satu penyebabnya ialah keluarnya keputusan sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan untuk mengurangi staf PBB yang berada di Baghdad. Setelah itu setiap hari diberitakan ada serangan bersenjata terhadap tentara-tentara Amerika dan korban nyawa pun berjatuhan. Diberitakan bahwa tindak kriminalpun semakin meningkat[6]. Oleh karena itu wajar saja bila dikatakan perang belum usai dan wajar juga bila dikatakan pasca Saddam Husain kondisi Irak makin tidak terkontrol dan pasukan pendudukan Amerika pun tidak bisa menguasai keadaan. Pada saat yang sama, kebencian rakyat Irak terhadap pasukan pendudukan semakin meningkat dan terwujud dalam bentuk aksi-aksi serangan bersenjata dan serangan bom bunuh diri. Aksi perlawanan terhadap pasukan pendudukan terus dilaukan oleh beberapa kelompok, misalnya kelompok Syiah pimpian Muqtada al-Sadr selain itu juga timbul perlawanan di berbagai tempat dan kota-kota di segitiga Sunni, seperti Mosul, Tikrit, Bagdad, Samara, Kirkuk, Basaiji, Ramadi, dan Baquba[7]. Sasaran penyerangn tersebut bukan hanya dari persoel tentara pendudukan tetapi juga rakyat dan para tokoh Irak[8]yang di anggap bersekongkol dengan Amerika.
Rangkaian perlawanan melawan pasukan pendudukan bermula dari penembakan terhadap tentara pendudukan pada tanggal 8 Mei 2003 di tengah lalu lintas di kota Baghdad. Sejak itu pula perlawanan bak api yang di siram minyak tanah yang terus mebesar dan bermunculan di berbagai tempat dan wilayah. Penghadangan, penyerangan dan penembakan terhadap tentara pendudukan yang sedang berpatroli menjadi hal yang biasa di setiap hari di Irak. Hampir setiap hari terdengar kabar seorang atau lebih tentara AS tewas di tembak kelompok-kelompok bersenjata. Bom meledak dimana-mana, banyak rocket meluncur dan di lepaskan orang-orang tak dikenal[9]. Keadaan seperti itu terus berlangsung hingga tahun 2007, bahkan kemungkinan sampai 2010 pun keadaan keamanan Irak belum tentu membaik.
Catatan sejarah Irak memang ditakdirkan penuh darah. Di tengah rintisan pembentukan pemerintahan baru pascapemilu, dua buah ledakan bom meluluhlantakkan dinding Masjid Asykariyah--populer dengan nama Masjid Emas--di Samarra, sebelah utara Kota Bagdad, Irak. Serangan ini sangat telak. Pertama, masjid ini merupakan salah satu tempat suci utama kaum Syiah di Irak. Di masjid inilah dua dari 12 imam yang sangat dihormati kaum Syiah, yaitu Imam Ali al-Hadi dan anak lelakinya, Hassan al-Askari, dimakamkan. Kedua, serangan ini mengakibatkan terjadinya perang saudara dengan isu sektarian Sunni-Syiah. Pascainsiden pengeboman di Masjid Asykariah sudah lebih dari 120 orang Sunni tewas sebagai reaksi balasan. Bahkan, meskipun sudah diberlakukan jam malam, menurut laporan Asosiasi Ulama Sunni, tetap saja sekurang-kurangnya 168 masjid Sunni telah diserang, 10 imam dibunuh, dan 15 lainnya diculik.
Tampaknya aksi kekerasan sektarian Sunni-Syiah ini akan terus meluas, mengingat aksi-aksi balasan yang dilakukan sekelompok orang kemudian menjadi bentuk penodaan agama dalam bentuk lainnya, seperti membakar Al-Quran dan perobekan hiasan ayat-ayat suci Al-Quran di masjid-masjid Sunni. Hingga saat ini belum ada yang menyatakan bertanggung jawab atas pengeboman masjid tersebut. Tapi ada beberapa kemungkinan aktor di balik pengeboman masjid tersebut.
Pertama, jaringan teror Tanzim al-Qaidah dan Anshar al-Sunnah sebagaimana dituduhkan oleh Amerika Serikat dan penasihat keamanan nasional Irak, Mouwafak al-Rubaie. Namun, banyak kalangan di Irak meyakini bahwa tuduhan Amerika itu sebagai bentuk pencarian kambing hitam. Sebab, semua faksi di Irak sepakat pendudukan Amerika di Irak harus diakhiri.
Kedua, kelompok Sunni. Selama ini kelompok Sunni selalu menjadi pemicu resistensi di Irak. Menurut pengamat politik Irak, Sami Sorous, kondisi di Irak saat ini sudah kehilangan mutual trust antara mayoritas Syiah di satu pihak dan otoritas Amerika, dewan pemerintahan Irak sementara, serta kekuatan politik Iran lainnya, seperti Sunni dan Kurdi di pihak lain. Bahkan isu yang kuat berkembang adalah seringnya terjadi pertemuan rahasia antara sejumlah tokoh Sunni dan Amerika, misalnya ditetapkannya status mantan Presiden Irak Saddam Hussein hanya sebagai "tawanan perang" merupakan bagian dari deal antara Amerika dan kaum Sunni. Memang bisa dipahami jika melihat hasil pemilu Desember lalu yang relatif memposisikan kelompok Syiah lebih beruntung secara politik. Sementara itu, partai Sunni (Front Perdamaian Nasional) hanya meraih 44 kursi dan Front Dialog Nasional pimpinan politikus Sunni Saleh al-Motlak mendapat 11 kursi. Golongan Sunni yang secara tradisional mendominasi politik di era Saddam merasa terancam dengan konstelasi baru ini. Belum lagi, dengan sistem federal, penguasaan kaum Sunni di daerah Irak tengah tidak menghasilkan minyak yang begitu berarti bila dibandingkan dengan di bagian selatan dan utara Irak yang dikuasai kaum Syiah dan Kurdi.
Ketiga, baik terlibat secara langsung maupun tidak, yang diuntungkan dengan kekacauan sektarian Sunni-Syiah ini adalah Amerika. Banyak sekali indikasi dan bukti bahwa pasukan pendudukan Amerika mengandalkan titik lemah masyarakat Irak, yaitu mengadu domba Sunni-Syiah. Sementara itu, Amerika bisa tetap bertahan lama di negara yang kaya akan minyak tersebut. Logikanya, di tengah kebijakan untuk lebih agresif dalam menghadapi "aksi teroris" dan perlawanan bersenjata rakyat Irak, alih-alih mencapai hasil maksimal, justru kontraproduktif dalam usaha Amerika merebut hati rakyat Irak dan banyak tentara Amerika yang menjadi korban--sejak invasi pada 2003, jumlah pasukan Amerika yang tewas melampaui 2.000 orang. Dengan dasar itu, peningkatan agresivitas militer dalam melawan kelompok bersenjata bukanlah jalan terbaik. Jalan yang terbaik adalah dengan cara nonkonvensional, yaitu melahirkan konflik perang saudara Sunni-Syiah dan memantapkan posisi Amerika sebagai pelindung rakyat Irak yang terjepit dalam konflik.
Dari ketiga kemungkinan tersebut bisa saja semua faksi yang ada--kecuali kaum Syiah--di Irak saat ini memiliki kepentingan yang sama agar Irak selalu ricuh untuk menangguk keuntungan bagi kelompoknya. Namun, yang paling kentara adalah kuatnya kepentingan Amerika untuk tetap eksis di Irak. Dengan kemenangan Partai Aliansi Syiah--meskipun gagal meraih kursi mayoritas--yang meraih 128 kursi di parlemen dari 275 kursi yang tersedia, berarti mereka hanya membutuhkan 3 kursi tambahan untuk menguasai mayoritas dua pertiga yang dibutuhkan untuk memilih presiden dan membentuk pemerintahan sendiri. Peluang Syiah inilah yang membuat Amerika khawatir. Jika Amerika memberikan peluang kepada kalangan Syiah, cepat atau lambat mereka akan menguasai pemerintah Irak. Realitas ini sekarang terbukti bahwa kalangan Syiah hampir mendominasi segala aspek bernegara, baik eksekutif, legislatif, maupun militer. Kondisi ini pada gilirannya dapat mengancam status quo dominasi Amerika, tidak hanya di Irak, tapi juga di kawasan Teluk secara keseluruhan. Apalagi jika pemerintah Syiah Irak tersebut berkolaborasi dengan Syiah Iran yang disebut Amerika sebagai salah satu axis of evil.
Harus diakui bahwa dendam antara kaum Syiah dan Amerika ini merupakan dendam yang berurat berakar. Dalam collective memory kalangan Syiah, Amerika adalah Setan Besar yang pernah berselingkuh dengan penguasa Syah Reza Pahlevi pada 1970-an dan menindas mereka. Begitupun pasca-Perang Teluk I, setelah Irak mundur dari Kuwait, Saddam Hussein banyak membantai kalangan Syiah sebagai balasan atas upaya pemberontakan mereka di Najaf, Karbala, Nassiriyah, Diwaniyah, Samawa, Suq al-Syuyukh, Basrah, Zubayr, dan Kuth, Amerika justru membiarkannya. Revolusi Iran oleh Ayatullah Khomeini tidak saja mengusir Syah Pahlevi, tapi juga mengusir Amerika dari Iran dengan pahit. Begitupun pascaruntuhnya rezim Saddam Hussein, dalam berbagai pertemuan penting yang diprakarsai Amerika, kaum Syiah Iran tidak menduduki posisi penting dan justru cenderung dimarginalkan. Memori kolektif inilah yang membuat hubungan Amerika-Syiah seperti api dalam sekam.
Sebenarnya penyerbuan dan pendudukan Amerika di Irak terkait dengan tiga kepentingan strategis Amerika di kawasan Teluk. Pertama, adanya jaminan suplai minyak dari kawasan Teluk untuk kelangsungan ekonomi dan industri Amerika. Kedua, menjamin keamanan Israel sebagai sekutu utama di Amerika. Ketiga, upaya penangkalan (containment) terhadap Irak--kemudian Iran--yang masih belum tunduk kepada Amerika. Di tengah situasi yang mengarah pada konflik horizontal di Irak, pemimpin Syiah yang paling dihormati di Irak, Ayatullah Ali al-Sistani, memberikan instruksi kepada pengikutnya untuk tidak melakukan serangan terhadap masjid-masjid Sunni. Sebagai sosok ulama satu-satunya marja', tempat rujukan agama yang sangat berpengaruh di golongan Syiah, instruksinya ini tentu sangat menentukan terbentuknya perdamaian Sunni-Syiah sebagaimana sebelum pendudukan Amerika. Lebih-lebih selama ini masyarakat Irak tidak terlalu mempersoalkan Sunni-Syiah. Yang menggembirakan kabarnya Ayatullah Ali al-Sistani tidak menginginkan model pemerintah wilayat al-faqih ala Iran. Bahkan ia tidak keberatan bila menerapkan sekularisme di Irak, sejauh dapat menjamin kebebasan dalam beragama.
Akhirnya, masa depan Irak sangat bergantung pada keterbukaan dan kesediaan faksi-faksi di Irak untuk menyatukan sikap dan kehendak mereka dalam menjamin stabilitas dan kemajuan Irak. Bila hal ini diabaikan, bukan tidak mungkin, sejarah panjang Irak yang penuh konflik akan terus memanjang. Irak menjadi Irak yang semakin terkoyak-koyak, bukan Irak yang kuat dan bersatu. Jika demikian yang terjadi, wajar saja jika Irak tidak disebut lagi sebagai Negeri Seribu Satu malam, tapi "Negeri Seribu Satu Pertumpahan Darah"[10]
KESIMPULAN
Perang memang selalu melahirkan kesegsaraan dan kerugian, begitu juga rakyat Irak yang kini telah mengalami masa-masa seperti itu. Trauma yang dialami masyarakat Irak saat peperangan belum terobati kini mereka harus menanggung akibat dari perang yang berdampak sampai sekarang. Berbagi masalah/konflik bermunculan baik konflik intern maupun ekstern. Konflik ekstern yaitu masalah yang mereka hadapi dengan masih adanya pasukan pendudukan yang masih berkeliaran di bumi Irak. Sedangkan konflik intern adalah konflik yang timbul dari masyarakat Irak sendiri yaitu antara kelompok Islam Sunni dengan Islam Syiah yang saling bersaing untuk mendapatkan otoritasya dalam pemerintahan. Dari awal pasukan pendudukan pimpinan Amerika dapat memasuki Irak pada tahun 2003 sampai pada tahun 2007 masalah tersebut masih terus berlangsung bahkan sampai sekarang.
Amerika yang katanya akan membebaskan rakyat Irak dari tangan kediktatoran Saddam ternyata kini telah berubah menjadi penindas dan malah menimbulkan masalah-masalah yang bahkan boleh dibilang lebih parah dari pada rezim Saddam. Rakyat Irak kini banyak yang mengalami kesengsaraan akibat ulah tentara pendudukan. Keinginan rakyat Irak untuk bebas dari tentara pendudukan sangat kuat dan terwujud dalam bentuk perlawanan-perlawanan bersenjata.
Perang juga menyebabkan konflik saudara antara Islam Sunni dengan Islam Syiah. Pemerintahan yang dulu pada rezim Saddam mayoritas di pegang oleh Islam Sunni walaupun kelompok minoritas tetapi dengan dukungan Saddam dan partai Ba’atnya tetapi kini kelompok Syiah selaku kelompok mayoritas mencoba untuk memengang pemerintahan walaupun menimbulkan berbagai reaksi seperti teror yang dilakukan dari orang-orang Sunni terhadap kaum Syiah. Pengalaman selama bertahun-tahun silam memang antara kaum Syiah dan Sunni selalu selalu berkonflik, terlebih sekarang tak ada pengawasan dari peraturan-peraturan yang harus mereka taati.
SARAN
Dalam penulisan ini sebagai manusia biasa yang masih jauh dari kesempurnaan dan tak mungkin lepas dari kesalahan, saya yakin banyak kesalahan yang ada dalam tulisan saya ini, untuk itu saya harapkan kritik dan saranya agar dapat menjadi koreksi dan tak terulang lagi dalam penulisan-peulisan berikutnya. Kritik dan saran pembaca sekaian sangat saya harapkan demi untuk menperbaiki kualitas tulisan saya ini.
DAFTAR PUSTAKA
Fibri. Rommy dan Ahmad Taufik, Detik-Detik Terakhir Saddam:Kesaksian Wartawan Tempo Dari Baghdad, Irak, Jakarta: PT. Temprint, 2008.
Anggoro, Kusnanto. Irak Korban Ambisi Kaum Hawkish, Jakarta: Kompas, 2005.
Kuncahyono. Trias, Bulan Sabit di Atas Baghdad, Jakarta: Kompas, 2005,
---Runyamnya Rencana Pemilu Irak. Koran Tempo Edisi 30 november 2004
---Bayangan Kegagalan Bush di Irak, Koran Tempo Edisi 11 november 2003
---Koran Tempo 30 November 2004
Gunawan, Asep. Ancaman Konflik Sunni-Syiah, Koran Tempo Edisi 2 maret 2006
Thanks.
BalasHapus