Minggu, 13 Maret 2011

K. H HASIM ASY'ARI DALAM MASA PERJUANGAN

A.    Masa Kanak-Kanak Sampai Dewasa.
Pada tanggal 24 Dzulqodah 1287 hijriyah (14 Februari 1871)[1], lahirlah seorang bayi laki-laki dari pasangan Asy’ari dan Halimah disebuah desa Gedang, Jombang Jawa Timur, bayi tersebut  kemudian diberi nama Hasyim Asy’ari.  Menurut silsilah ia dipercaya masih merupakan keturunan dari bangsawan-bangsawan terkemuka yang pernah berkuasa ditanah Jawa ini. Semenjak kelahiranya sampai ia berumur 5 tahu ia tinggal ditempat kakeknya dan sambil belajar ilmu agama di pondok pesantren milik kakeknya  yaitu pondok pesantern Gedang. Beliau dididik sejak kecil mengenai ilmu-ilmu agama yan kelak menjadi bekal menjalani kehidupanya. Setelah ia berumur 6 tahun K.H Asy’ari kemudian pindah mengikuti orang tuanya kesebuah desa yaitu desa Keras. Di desa tersebut kemudian orang tuanya melekukan dakwah dan mendirikan sebuah pondok pesantren sebagai media dalam menyebarkan agama Islam. Disinalah K.H Hasyim Asy’ari melanjutkan studinya menuntut ilmu-ilmu agama melalui bimbingan orang tuanya sampai ia beumur lima belas tahun. Tidak berbeda dengan orang tuanya ia dikemudian hari juga mendirikan sebuah pesantren, hal tersebut terjadi mungkin karena sikap yang di tularkan dari orang tuanya yang juga mendirikan sebuah pesantren. Kehidupan beliau semenjak ia lahir sampai usia remaja berada dalam lingkungan pesantren, hal inilah yang mempengaruhi dan membentuk corak watak dan sikapnya dimasa depanya. Setelah selama 10 tahun beliau belajar ilmu agama dengan bimbingan orang tuanya pada usianya mencapai lima belas tahun beliau meneruskan studi islamnya ke berbagai pondok pesantren ternama di tanah Jawa timur yang kianya mempunyai keahlian-keahlian didalam bidang ilmu agama tertentu. Pondok pesantren yang pertama ia kunjungi pada saat itu adalah pondok pesantren Wonokoyo di daerah Jombang. Setelah ia selesai menguasai ilmu yang diajarkannya ia kemudian melajutkan perjalanannya dan mendatangi pondok pesantren Probolinggo. Selesai di Probolinggo beliau melanjutkan kembali ke pondo pesantren Terenggelis. Dan masih banyak pondik pesantren lainya di Jawa Timur yang di datangi untuk menambah ilmunya.[2] Walaupun beliau telah belajar dan berhasil menguasai ilmu-ilmu agama dibeberapa pondok pesantren terkemuka di Jawa Timur namun hasrat beliau untuk tetap menuntut dan belajar ilmu keagamaan Islam masih terus menggebu-gebu. Akhirnya memutuskan untuk pergi dan menggembara ke luar Jawa untuk memperdalam ilmu pengetahuan agamanya, tempat yang di tuju ialah sebuah Pondok Pesantren di daerah Madura. Namun setelah selesai belajar di Madura ternyata ia merasa bahwa ilmu yang di dapatnya belumlah cukup untuk bekal kehidupanya sehingga ia melanjutkan studinya di Sidoarjo, yaitu seuah pondok pesantren yang benama Siwalan Panji. Di dalam pondok tersebut ia di bimbing oleh seorang kiai yaitu kiai Yakub. Disana beliau dalam menuntut ilmu agamanya sangat cepat diterimanya dan beliau jiuga murid yang tergolong cerdas dan pintar. Sikap dan perilakunya yang sopan santun ternyata mengundang perhatian tersendiri dari kiai Yakub sehingga suatu saat ia di panggil oleh kiai yakub untuk dianggap bicara mengenai pikiran yang ada dibenak kiai Yakub tersebut. Ternyata perhatian kiai tersebut yang selama ini ada dalam pikiranya yaitu menjodohkan K.H hasyim Asy’ari dengan putrinya yang bernama Khadijah. Tawaran tersebut sangat membingungkan K.H Hasyim Asy’ari, di satu sisi ia mempunyai cita-cita dan harapan untuk bisa menuntut ilmu dan memperdalam lebih lanjut karena ia merasa ilmu yang selama ini ia peroleh belumlah cukup hanya sampai di sini saja, ia menginginkan agar ilmu yang di dapatnya lebih dari sekedar itu. Namun dilain pihak beliau tidak ingin mengecewakan guru yang selama ini membimbingnya. Sebenarnya apa yang di ragukan dan difikirkan oleh K.H Hasyim Asy’ari telah diketahui oleh Kiai Yakub dan akhirnya Kiai Yakub pun memberikan nasihat dan wejangan dan mengatakan bahwa mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim, dan mencar ilmu itu tidak ada batasanya seperti luasnya lautan, ia juga mengatakan menikah bukanlah halangan bagi seseorang untuk mencari ilmu selama niat yang ada pada orang tersebut terus menggebu-gebu. Akhirnya untuk memutuskan hal tersebut ia meminta pertimbangan kepada orang tuanya, dan ternyata orang tuanya pun menyetujui hal tersebut. Sehingga ia memutuskan untuk menerima tawaran tersebut dan menikah dengan putri Kiai Yakub, dan ketika itu K.H berusia 21 tahun.
Setelah ia menikah dan menetap ditempat mertuanya kemudian ia dan keluarganya memenuhi rukun Islam yang terakhir yaitu melaksanakan ibadah haji ke Makkah, sekaligus ia menetap disana untuk memperdalam ilmunya dan sampai ia khirnya istrinya melahirkan, namun nasib baik belum berada dipihaknya, K.H Hasyim Asy’ari mendapat ujian dari dengan di ambil nyawa anak dan istrinya. Disana beliau belajar dari berbagai kiai-kiai besar dan hebat yang ada di Makkah. Kebetulan pada saat beliau berada di Makkah disana sedang terjadi gerakan pan Islamisme yang di pelopori oleh Jalaludin Al-Afgani dan Muhammad Abduh. Hal tersebut sangatlah berpengaruh terhadap pemikiran K.H Hasyim Asr’ari ketika pulang ke tanah air.
B. Peranan K.H Hasyim Asy’ari Dalam Nahdlatul Ulama Terhadap Perjuangan Melawan Kolonialisme.

Berbicara masalah kelompok Jam’iyah islam Nahdlatul Ulama tidak akan pernah bisa lepas dari peran dan sosok K.H Hasyim Asy’ari. K.H Hasyim Asy’ari sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan organisasi ini karena pemikiran beliaulah organisasi ini bekembang pesat hingga tersebar di hampir seluruh Jawa. Beliau adalah sosok yang sangat karismatik sehingga tak heran apabila para kiai pengasuh pondok pesantren didaerah Jawa Timur  dan Jawa Tengah waktu itu sangatlah menghormati diriya, bahkan orang yang pernah menjadi guru dan pembimbingnya semasa ia berada di pondok pesantren, sekarang ia mengganggap bekas muridnya itu menjadi gurunya. Jam’iyah (organisasi) Nahdlatul Ulama adalah organisasi yang lahir di tengah-tengah kemajuan dan kemegahan bangsa barat yang sedang menjajah bangsa kita ini. Untuk mempertahankan organisasi ini  bukanlah suatu usaha yang mudah  pada masa itu, karena pemerintah kolonial pada masa itu tidak ingin ada kekuatan dalam masyarakat pribumi karena di anggap akan membahyakan kekuasaanya di Nusantara ini. Walaupun beliau menjadi pemimpin yang besar dalam organisasi tersebut dan organisasinya berkembang secara pesat namun ia tidak pernah membenci jam’iyah-jam’iyah lainya yang ada, justru beliau menginginkan persatuan yang harus galakan dan ditegakan sesama umat muslim. Karena tanpa persatuan tersebut umat muslim yang jumlahnya banyak pun akan mudah didipecah belah.
Sehubungan dengan diterapkanya kebijakan plitik Etis oleh pememrintah Belanda maka dimulailah babak baru dimana rakyat dan tanah air ini mengalami pengeksploitasian secara besar-besaran. Banyak masyarakat pribumi yang menjadi korban dari kebijakan tersebut sehingga melahirkan perasaan-perasaan benci yang teramat mendalam terhadap pemerintah. Kesengsaraan melanda masyarakat pribumi yang menyebabkan menimbulkan perubahan sosial dan pemiskinan rakyat khususnya yang berada di daerah pedesaan.  Tatanan kebijakan pemerintah terhadap masyarakat pribumi yang menyengsarakan ini mengakibatkan keinginan untuk diadakan tatanan pemeritahan yang baru yang bisa membawa mereka kearah yang lebih baik. Untuk mewujudkan impianya tersebut masyarakat kemudian melakukan aksinya dengan melakukan protes terhadap pemerintah. Melihat hal tersebut K.H Hasyim Asy’ari berusaha untuk memahami dan melakukan dakwahnya dengan cara-cara yang tepat. Pondok pesantren di Jawa waktu itu sangatlah menutup pengaruh dari luar khususnya pengaruh dari bangsa kolonial yang di anggap merusak moral-moral Islam. Segala bentuk pengaruh yang berbau barat pasti akan ditolaknya sehingga masyarakat pesantren menjadi kolot dan tertinggal. Hal ini terjadi secara terus-menerus sampai datang pemikiran modern yang sadar akan ketertinggalannya.
Perjuangan K.H Hasyim Asy’ari dilakukan dengan mengobarkan semangat pembaharuan pada tahun 1926[3] terhadap masyarakat pondok pesantren yang sangat masih menutup diri dari pengaruh luar. Selain ilmu-ilmu agama yang di ajarkan didalam pondok ia juga memperbolehkan ilmu-ilmu umum di ajarkan dengan tujuan agar mereka tidak tertinggal dengan bangsa Barat. Awalnya pembaharuan ini tidak disetujui oleh golongan kiai kiai yang sudah tua namun setelah dijelaskan oleh K.H Hasyim Asy’ari dengan alasan untuk menghancurkan mereka kita harus mengetahui dahulu lawan kita, akhirnya pembaharuan tersebut dapat diterima oleh golongan Kiai-kiai tua. Walaupunbeliau membebolehkan pengaruh arat masuk namun beliau tetap meyaring setiap sesuatu hal yang masuk. Pemerintah pada saat itu menyadari bahwa kekuatan yang ada dalam masyarakat Islam tersebut dapat membahayakan dirinya, sehingga pemerintah memutuskan untuk mempengaruhi K.H Hasyim Asy’ati dengan iming-iming gaji yang besar dan tanda kehormatan, namun semua itu di tolah oleh beliau dengan dalih bahwa beliau tidak mau mengurangi rasa iklasnya dalam pengabdian terhadap agama Islam.



[1] Dwi Purwoko, Negara Islam, Percikan Pemikiran: H. Agus Salim,K.H Mas Mansur, K.H  Hasyim Asy’ari dan Mohammad Natsir. ( Depok: P.T ermata Artistika Kreasi, 2001), Hal. 45
[2] Heru Sukadri, Kiai Haji Hasyim Asy’ari: Riwayat Hidup dan Pengabdianya (Jakarta: Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional,1985) Hal 32
[3] Heru Sukadri, Kiai Haji Hasyim Asy’ari: Riwayat Hidup dan Pengabdianya (Jakarta: Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional,1985) Hal. 96

1 komentar:

  1. Mohon maaf gan saya boleh tanya mengenai pondok pesantren yang dikunjungi KH. Hasyim Asy'ari yang pertama ada di wonokoyo daerah jombang? maaf gan soalnya yabg sering saya baca di blog2 itu wonokoyo probolinggo
    Kalau boleh bisa dijelaskan gan
    Terimakasih sebelumnya

    BalasHapus