PENDAHULUAN
Sosok Sultan Hamengku Buwono II salah satu raja Jawa yang sangat kontrafersial. Pada saat sekarang ini banyak orang yang kurang mengenal sosok yang satu ini , padahal beliau adalah raja Jawa yang sangat gigih mempertahankan tradisi-tradisi dari pengaruh pengaruh bangsa Eropa yang kala itu telah berkuasa dan menjajah tanah jawa ini. Bahkan raja Jawa yang satu ini mungkin saat ini terkenal dengan sikap-sikap negatifnya, karena selama ini banyak peneliti yang menulis tentangnya mengunakan arsip-arsip hindia belanda yang belum ada sumber dari pihak kita yang dapat di jadikan sumber yang dapat dignakan sesuai dengan sesuai.
Sultan Hamengku Buwono II adalah seorang raja kesultanan Jogjakarta yang ke dua setelah menggantikan ayahnya yang bernama Mangkubumi sekaligus segabai pendiri kerajaan tersebut. Sultan Hamengkubuwono II juga sering di sebut juga sebagai sultan sepuh. Selama ini banyak orang yang melupakan atau bahkan tidak tau tentang kepemimpinan beliau saat memerintah dulu. Sultan yang yang satu ini terkenal keras dan sangat anti terhadap pemerintah kolonial sangat membuat orang orang Eropa yang pada saat itu datang ke bumi Jawa ini untuk menjajah kewalahan karena memang sikapnya yang keras.
Sumber-sumber sejarah selama ini khususnya sumber sejarah arsip kolonial meceritakan bahwa sosok Sultan Hamengkubuwono II adalah orang yang sangat kejam, kers kepala, tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Hindia belanda. Sejak usia muda, Sultan Hamengku Buwono II (HB II) telah menunjukkan pribadinya sebagai bangsawan Yogyakarta yang menjaga integritas dan kekuasaan Kesultanan Yogyakarta. Ia menjadi musuh utama Belanda yang dianggap telah melakukan intervensi terlalu jauh dalam kehidupan kraton Yogyakarta yang menurunkan wibawa raja-raja Jawa. Setelah memegang tampuk pemerintahan tahun 1792, ia tetap menunjukkan tekadnya untuk menjunjung tinggi kebesaran tradisi dan kewibawaan Kesultanan Yogyakarta. Hal ini mengakibatkan terjadinya benturan dengan tuntutan dan kepentingan para penguasa kolonial yang ingin memaksakan kehendaknya kepada raja-raja Jawa. Atas dasar itu, Sultan HB II selalu melawan tekanan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Sebagai akibat dari sikapnya itu, pemerintah kolonial menggunakan berbagai alasan untuk menurunkan tahtanya.
Selama hidupnya, Sultan HB II mengalami dua kali penurunan tahta (tahun 1811 oleh Daendels dan 1812 oleh Raffles), bahkan dibuang sebanyak tiga kali sebagai hukuman yang dijatuhkan kepadanya (Penang 1812, Ambon 1817, dan Surabaya 1825). Pemerintah kolonial akhirnya harus mengakui kewibawaan Sultan HB II yang terdesak sebagai akibat dari pecahnya perang Diponegoro. Ia dibebaskan dari pembuangannya dan dilantik kembali menjadi raja di Yogyakarta. Sampai akhir hayatnya Sultan HB II tidak pernah mau bekerja sama dengan Belanda apalagi untuk menangkap Diponegoro atau menghentikan perlawanannya. Hingga kini masih banyak karya peninggalan Sultan HB II yang mengingatkan pada watak dan masa pemerintahannya. Baik karya sastra, karya seni maupun bangunan fisik mengingatkan pada kebijakan, tindakan dan watak Sultan HB II semasa hidupnya.
KEKUASAAN KOLONI HINDIA BELANDA DI JAWA
Setelah runtuhnya kelompok dagang VOC pada
1 Januari 1799
,
pada tahun 1817 disusul berdiri pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang akan memerintah tanah jawa menggantikan VOC yang sebelumnya memerintah tanah Jawa. Hak milik
yang dulu dipunyai VOC di tanah jjawa ini dialihkan kepada pemerintah Belanda.
Pada saat itu juga sedang terjadi gejolak di Eropa, yaitu sebuah pepeangn yang terjadi antara Prancis dan Belanda. Namun akhiranya peperangn tersebut di menangkan oleh Prancis. Karena Belanda kalah perang dan dikuasai Perancis
maka sesuai hukum peperangan apa yang dimiliki pihak yang kalah maka akan pindah menjadi milik pemenang begitu pula dengan wilayah-wilayah yang dimiliki
oleh Belanda
kini menjadi milik
Perancis.
Pada saat negri Belanda dikuasai Prancis "Republik Batavia" di Belanda
diubah namanya di bawah kekuasaan Prancis menjadi "Kerajaan Belanda", dengan
Louis, saudara laki-laki
Napoleon, sebagai rajanya
.
Pemerintahan Belanda yang dikuasai Perancis menunjuk
Daendels sebagai Gubernur Jenderal
di Hindia Belanda
. Ia tiba di Hindia Belanda pada 1 Januari 1808. Ia memindahkan tempat kediaman resminya ke
Buitenzorg (kini dinamai
Bogor). Daendels memerintah dengan menjalankan prinsip-prinsip pembaharuan dengan metode-metode kediktatoran ke Jawa
. Ia juga mengangkat wakil-wakilnya di jawa yang di tempatkan di kraton-kraton Jawa yang di sebut dengan Menteri dengan tujuan agar dapat mengetahui dan mengawasi Raja-raja Jawa dalm kegiataanya.
Ia juga menuntut agar mentri wakil dari kerajaan belanda di perlakukan sama seperti raja-raja Jawa. Daendels berusaha memberantas ketidakefisienan, korupsi, penyelewengan-penyelewengan dalam administrasi Eropa. Akibat rasa tidak suka dari naluri-naluri anti feodal, Daendels menganggap penguasa Jawa sebagai pegawai administrasi Eropa.
Peran Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang kejam dan rakus berakhir pada tanggal 16 Mei 1811, dan digantikan oleh J.W. Jansens. Jabatan Jansens sebagai Gubernur Jenderal hanya beberapa bulan saja, sebab setelah itu pasukan Inggris menyerbu Belanda, di mana akhirnya Belanda menyerah kalah di Kali Tunntang, Salatiga, Jawa Tengah. Peralihan kekuasaan antara Belanda kepada Inggeris, dipergunakan se¬baik-baiknya oleh Sultan Sepuh (Sultan Hamengku Buwono II) untuk merebut kembali kesultanan Yogyakarta. Usaha ini berhasil dan bahkan sultan sepuh memerintahkan agar Patih Danureja II dihukum mati, karena persekongkolannya dengan Belanda.
Kehadiran Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderal penguasa kolonial Inggeris di Indonesia, mengokohkan kekuasaan Sultan Sepuh dengan jalan tetap mengakui Sultan sepuh sebagai Sultan Hamengku Buwono II yang berkuasa di daerah Yogyakarta dan menetapkan Sultan Hamengku Buwono III menjadi Adipati Anom. Raffles meminta tanah daerah-daerah Kedu, Bojonegoro dan Mojokerto kepada Sultan HB II atau Sultan Sepuh agar menyerahkan tanah bekas dari pemerintahan Daendles dulu yang memerintah sebelumnya. Tetapi keinginan Reffles di tolak oleh Sultan Sepuh sehinga Reffles mengirimkan armada perangnya menuju Yogyakarta untuk menundukan Sultan Sepuh. Sultan akhirnya dapat di taklukan dan kemudian di asingkan ke Penang. Berbeda dengan sultan hamengku Buwono II justru ia malah membantu Reffles. Sehingga setelah Sultan sepuh diasingkan sulatan Hamengku Buwno III naik tahta.
Pada awal tahun 1815 di Eropa diadakan kongres Wina. Kongres ini dihadiri oleh semua wakil negara Eropa yang terlibat dalam peperangan Napoleon, termasuk Prancis. Salah satu keputusan kongres itu adalah pemulihan wilayah seperti kondisi sebelum tahun 1795. Dengan adanya kesepakatan ini, Inggris wajib mengembalikan Jawa kepada Belanda. Sebagai konsekuensi keputusan Kongres Wina, pada bulan April 1815, Raffles menerima berita ini dan ia mulai bersiap-siap meninggalkan Jawa. Agar tidak menimbulkan kesulitan bagi pemerintah Inggris, Raffles memutuskan untuk mengembalikan semua tawanan termasuk Sultan HB II. Atas instruksinya, Mayor W.P. Kree komandan Fort Cornwallis mengirim kembali Sultan HB II ke Batavia pada tanggal 10 April 1815. Setelah itu pemerintahan kolonial kembali ke tangan Belanda lagi.
PERLAWANAN SULTAN HAMENGKU BUWONO II
TERHADAP PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA
Sultan Hamengku Buwono II lahir di lereng gunung Sindoro pada hari Sabtu Legi tanggal 7 Maret 1750, daerah Kedu Utara. Ketika lahir, Sultan HB II diberi nama Raden Mas (RM) Sundoro. Nama ini diberikan sesuai dengan nama tempat kelahirannya yang berada di lereng gunung Sindoro. RM Sundoro adalah putra Pangeran Mangkubumi, yang menjadi raja pertama di Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755 dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I
Raden Sundoro sejak kecil hidup di tempat kelahiranya tanpa menikmati fasilitas-fasilitas umumnya seperti layaknya seorang putra mahkota. Pada saat itu ayahnya Pangeran Mangkubumi sedang berperang dan bergeriliya melawan pemerintahn VOC dan kerajaan Mataram yang kala itu di pimpin oleh Paku Buwono III. Medan perang Mangkubumi yang membentang begitu luas membuat Raden Sundoro tidak pernah melihat ayahanya sebelum perang berakhir dan sampai usia sekitar lima tahun ia tetap di asuh oleh ibunya Kanjeng Ratu Kadipaten, permaisuri kedua Pangeran Mangkubumi.
Pada tanggal 13 Februari 1755 di tandatangani perjanjian Giyanti yang membagi wilayah mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Jogjakarta dan Kesunanan Surakarta dan sekaligus mengakhiri perang saudara. Dengan di tandatanganinya perjanjian Giyanti berakhirlah peperangan yang dilakukan ayah Raden Sindoro. Sejak itu didirikanlah kesultanan Yogyakara Hadiningrat oleh Mangkubumi di Yogjakarta dengan gelar Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurakkhman Sayidin Panatagama Kaliftullah yang sering di sebut Hamengku Buwono I dan seluruh keluarganya di boyong ke keraton baru itu termasuk Raden Sindoro permaisurinya. Raden Sindoro kini mulai hidup dilingkungan kraton bersama keluarganya, ayahnya sangat menyayanginya. Ayahnya menunjuknya sebagai putara mahkota sejak ia di khitan. Ayahnya mengenal betul karakter Raden Sindoro yag keras, hal tersebut akibat dari pengalaman hidupnya yang sejak kecil berada di pengungsian menuggu ayahnya bergerilya. Sebagai putra mahkota Raden Sindoro juga turut aktif membantu ayahnya dalam mementukan kebijakan terutama jika berkaitan dengan pemerintah Hindia Belanda, ia selalu berusaha melawan pemerintah koloni dengan cara menyampaikann ide-idenya kepada ayahnya. Sepeniggal ayahnya ( HB I) pada tanggal 24 Maret 1792 Raden Sindoro naik tahta dan menjadi raja menggantikan ayahnya pada tanggal 2 April 1792 dengan gelar Sultan Hamengku Buwono II. Selama masa pemerintahannya, sifatnya yang anti-kolonial semakin jelas. Sultan HB II menyadari bahwa orang-orang Belanda merupakan ancaman utama terhadap keutuhan wilayah dan kewibawaan raja-raja Jawa khususnya di Kesultanan Yogyakarta. Berbeda dengan Sunan PB IV yang berambisi untuk memulihkan kekuasaan ayahnya sebagai raja Mataram, Sultan HB II tidak berpikir untuk mengembalikan wilayah Kerajaan Mataram lama di bawah satu pemerintahan. Sebaliknya, tujuan utama Sultan HB II adalah menjadikan Kesultanan Yogyakarta sebagai suatu kerajaan Jawa yang besar, berwibawa dan disegani oleh para penguasa lain termasuk oleh orang-orang Eropa. Harapan Sultan HB II adalah Kesultanan Yogyakarta menjadi penegak dan pendukung utama tradisi budaya dan kekuasaan Jawa. Bertolak dari konsep ini, Sultan HB II bertekad untuk menolak semua intervensi Belanda yang mengakibatkan merosotnya kewibawaan raja Jawa dan berkurangnya wilayah kekuasaan raja-raja Jawa. Sultan Hamengku Buwono II adalah raja Jawa kesultanan Yogjakarta yang pernah memerintah dan naik tahta sebanyak empat kali. Sultan Hamengku Buwono II memerintah pada tahun 1792 dan 1828. Raja ini sangat terkenal keras kepala terhadap oarang-orang Eropa/Belanda. Memang sultan Hamengku Buwono II sejak kecil sudah menunjukan rasa dan sikap kebencianya terhadap kolonial yang berbuat semena-mena terhadap rakyatnya pada saat tangkup pemerintahan masih di pegang oleh ayahnya yaitu Mangkubumi denga gelar Sultan Hamengku Buwono I. Pada waktu Sultan memegang pemerintahan pada saat itu sedang terjadi pergolakan politik di negeri para penjajah atau Eropa, sehingga koloni di Jawa pun mengalami perubahan empat kali rezim kolonial dalam kurun waktu kurang dari setengah abad, yaitu dari VOC, Prancis, Inggris dan Belanda. Dan kala itu koloni beralih ke tangan Inggris. Perubahan rezim tersebut pun sangat berdampak pada kebijakan yang di terapkan oleh setiap rezim yang menerapkan peraturan baru setiap memegang dan ada pula yang hanya meneruskan rezim sebelumnya, kepada raja-raja di Jawa termasuk raja Yogjakarta. Hal tersebut sangatlah merugikan raja-raja Jawa sehingga sering timbul konflik-konflik diantara kedua pihak yang mempunyai kepentinggan. Sosok sultan Hamengku Buwono II sangatlah tegas dalam menentang kekuasaan pemerintahan kolonial di Jawa yang dianggap sangat merugikan dan menurunkan wibawa-wibawa raja Jawa. Pada sumber-sumber sejarah dan arsip-arsip kolonial sosok Sultan digambarkan raja yang kejam, tidak mau di ajak kompromi, kejam tidak segan-segan menyingkirkan siapapun yang dianggap menghalanginya walaupun keluarganya sekalipun. Hal tersebut dapat kita jadikan gambaran betapa bencinya orang-orang Eropa yang berusaha menjajah Jawa terhadap Sultan Hamengku Buwono II yang sangat anti kolonial itu.
Pada saat Hindia Belanda di pimpin oleh Gubernur Daendles yang mewakili Prancis dari kerajaan Belanda yang kala itu di pimpin oleh raja Louis adik dari Napoleon yang menjadi raja Belanda. Daendles dalam pemerintahannya sangatlah bertidak radikal terhadap raja-raja di Jawa khususnya Surakarta dan Yogyakarta. Ia menempatkan wakil-wakilnya yang disebut Minister di dalam kerajaan kerajaan tersebut yangdi maksudkan untu mengawwasi kegiatan –kegiatan Raja. Dan Deandles juga menuntut agar wakil-wakilnya di perlakukan sama seperti raja. Raja dari Surakarta menerima begitu saja aturan yang diberlakukan oleh Daendles tetapi lain dari raja Yogajakarta (Hamengku Buwono II) ia menolak mentah-mentah aturan yang di berlakukan oleh Gubernur Daendles karena ia menganggap hal tesebut berlebihan dan telah melanggar kode etik dan tradisi Kerajaannya dan hal tersebut juga akan menurunkan wibawanya. Hal tersebut mengundang reaksi dari Deandles yang segera mendatangkan pasukan militernya yang langsung dipimpinya menuju Yogjakarta. Sultan juga menolak dan keberatan apabila setiap penggangkatannya, patih harus menandatangani suatu perjanjian yang menetapkan bahwa tanah-tanah yang di berikan kepada sultan hanya sebagai pinjaman hal tersebut tentu sangat membuat Sulan tersinggung dan marah terhadap pemerintah kolonial.
Sultan juga menolak permintaan Daendles yang meminta pengambilalihan hak pengelolaan hutan dan penyerahan monopoli penebangan kayu milik raja-raja Jawa. Daendels menghendaki agar monopoli penebangan kayu dikuasai oleh pemerintah mengingat persediaan kayu di hutan-hutan pemerintah tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur pertahanan Jawa. Gubernur jenndaral rezim colonial setelah Daendles di gantikan oleh Jan Willem Janssens gubernur ini memusatkan perhatianya pada pertahanan Jawa yang di serang Inggris. Namun pada akhirnya Jan Willem Janssens kalah dan Jawa berhasil di kuasai oleh Inggris dengan Thomas Stamford Raffles sebagai letnan gubernur jenderalnya. Pada masa ini Reffles menuntut agar perjanjian yang di buat dulu pada waktu dipegang oleh Daendles juga di berlakukan sama seperti dulu. Pada saat itu ada rencana untuk mengusir Inggris dai Jawa oleh kedua kerajaan tersebut namun hal itu di ketahui oleh Reffles shingga Refles memerintahkan prajuritnya untuk menyerbu Yogoyakarta dan mendapat sambuatn dari tentara-tentara kraton namun akhirnya Sultan tertangkap dan di asingkan Penang.
Setelah di adakan perjanjian Wina yang isinya mengembalikan Jawa dari tangan Inggris ke tangan Belanda, kini Jawa di perintahlagi oleh Belelanda. Perbuatan Belanda semakin Tidak dapat di biarkan saja sehingga cucu sultan sepuh yang bernama pangeran Diponegoro melakukan pemberontakan. Pemberontakan ini cukup membuat Belanda mennggung kerugian yang besar. Untuk mengatasi pemberontakan tersebut belanda meinta Sultan Sepuh untuk memerintah kembali dan naik tahta. Hal itu ditujukan agar dapat meredakan pemberontakan yang dilakukan oleh cucunya.
Sejak Oktober 1827 kondisi fisik Sultan HB II yang berusia 77 tahun semakin merosot. Beban batin yang ditimbulkan oleh posisinya sebagai seorang raja Yogyakarta dan harus berhadapan dengan anak dan cucunya sendiri semakin memperparah penyakitnya. Akhirnya setelah mengalami radang tenggorokan, pada tanggal 2 Januari 1828 Sultan HB II wafat. Dua hari kemudian jenazahnya dimakamkan di pemakaman raja-raja di Imogiri.
KESIMPULAN
Dari uraian tersebut bisa diketahui bahwa Sultan HB II adalah seorang raja yang tegas dan tidak mau menyerah kepada tekanan asing. Sebagai seorang raja Jawa, Sultan HB II merasa wajib menjunjung tinggi dan membela kewibawaan kekuasaan Jawa yang terwujud dalam tradisi. Ketika tradisi Jawa yang menjadi idealismenya terancam oleh tindakan penguasa asing, Sultan HB II tidak segan melawannya meskipun musuhnya jauh lebih kuat.
Hal ini jelas terlihat pada saat Sultan HB II menolak permintaan van Overstraten tentang kedudukan utusan Belanda yang akan disamakan dengan raja Jawa. Begitu juga dengan tuntutan Daendels untuk mengubah tata aturan penyambutan Minister yang merendahkan martabat seorang raja Jawa, Sultan HB II dengan tegas menolaknya. Bahkan, selama masa pemerintahannya, Sultan HB II tidak pernah mau menerapkan aturan baru Daendels ini. Ketentuan tersebut baru berhasil dilaksanakan setelah Sultan HB II turun tahta dan digantikan oleh putra mahkotanya.
Pada masa pemerintahan Inggris, Sultan HB II tampil sebagai seorang raja Jawa yang berani menghadapi Raffles bersama pasukannya meskipun harus mengorbankan dirinya dan kratonnya. Ketika untuk kedua kalinya diturunkan tahta pada tahun 1812 dan dibuang ke luar Jawa, Sultan HB II tidak pernah menyatakan bersedia menyerah kepada penguasa kolonial. Begitu juga ketika dirinya dibuang ke Ambon oleh pemerintah kolonial pada tahun 1817, Sultan HB II tidak bersedia menyerah. Keinginannya kembali adalah agar ia dapat dimakamkan berdekatan dengan ayahnya di Imogiri. Ketika Belanda memerlukannya untuk kembali naik tahta pada tahun 1826 dengan harapan menggunakan pengaruhnya untuk menyelesaikan perang Diponegoro, Sultan HB II tetap menolak membujuk Diponegoro agar menghentikan perlawanan atau menyerah kepada Belanda. Sebaliknya, pengaruh Sultan HB II di antara para pangeran pengikut Diponegoro tampak besar, yang terbukti dengan adanya penyerahan sejumlah bangsawan Yogya yang kembali ke kraton dan menghentikan perlawanannya.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa Sultan HB II adalah sosok raja Jawa yang pantang menyerah dan taat pada ajaran tradisi Jawa. Dirinya tetap menjadi raja yang disegani dan dihormati sebagai seorang raja yang mempertahankan tradisi dan kekuasaan Jawa.
SARAN
Dalam penulisan ini sebagai manusia biasa yang masih jauh dari kesempurnaan dan tak mungkin lepas dari kesalahan, saya yakin banyak kesalahan yang ada dalam tulisan saya ini, untuk itu saya harapkan kritik dan saranya agar dapat menjadi koreksi dan tak terulang lagi dalam penulisan-peulisan berikutnya. Kritik dan saran pembaca sekaian sangat saya harapkan demi untuk menperbaiki kualitas tulisan saya ini.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Rujukan:
Djoko Marihandono, Sultan Hamengkubowono II: Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa, op.,cit. Hal.30