Minggu, 13 Maret 2011

KONTRIBUSI BUDAYA PERADABAN TERTUA DI KAWASAN ASIA AFRIKA

Ada tiga peradaban yang mempunyai peranan penting terhadap pembentukan tradisi keilmuan dan pemikiran politik barat, yaitu peradaban Yunani-romawi, Peradaban yahudi-kristiani, dan peradaban Islam. Dalam hal ini saya hanya akan mengulas mengenai peradaban Islam dan kontribusinya terhadap peradaban Barat.
Banyak yang beranggapan bahwa peradaban islam merupakan copy dari peradaban Yunani-Romawi. Namun, bagi para pemikir Islam kasik, hal ini bukanlah sebuah kesalahan besar jika menerima warisan ilmu dari manapun datangnya. Bahkan mereka tidak alergis terhadap peradaban Mesopotamia, Bizantium, Persia, Hindu dan Cina. Hal ini dikarenakan Islam adalah agama yang terbuka dan toleran terhadap berbagai pengaruh peradaban asing sejauh tidak bertentangan dengan prinsip ketuhanan dan mampu memperkaya tradisi keilmuan Islam. Sejarah membuktikan bahwa dalam penaklukan-penaklukan Islam tidak diiringi dengan penghancuran peradaban-peradaban lokal negeri-negeri yang ditaklukan.  Islam membiarkan dan memperkaya peradaban negeri-negeri yang ditaklukan tersebut. Umat Islam menerima warisan Yunani-Romawi juga warisan peradaban dari negeri taklukan mereka karena watak mereka yang kosmopolis dan universalis.
Dalam hal ini saya akan mengemukakan kontribusi peradaban Islam terhadap lahirnya peradaban Barat. Sebelum abad XIII, Eropa masih diliputi abad-abad kegelapan (Dark Ages). Tradisi ilmiah masih dianggap musuh agama dan penghianatan ajaran al Kitab dan Yesus Kristus. Eropa mulai mengalami proses pencerahan intelektual setelah terjadi kontak dan interaksi intensif dengan peradaban Islam, baik melalui perdagangan maupun pengiriman mahasiswa Barat ke dunia Islam.
Perang Salib yang berlangsung selama dua abad menjadi tonggak penting dalam interaksi antara peradaban Barat dengan Islam. Dengan adanya perang Salib mulailah terjadi kontak dagang, pertumbuhan merkantilisme dan proses pertukaran budaya. Dalam hal ini peradaban Barat telah jauh lebih banyak belajar dan mengambil manfaat dari peradaban Islam daripada sebaliknya.
Contohnya, peradaban Islam di Spanyol telah berhasil memperluas kebesarannya ke penjuru Eropa. Dan dari sini pulalah, Eropa mulai merambah kearah pencerahan intelektual dan Barat telah berhasil menghancurkan dogma-dogma yang mengungkungnya selama berabad-abad dan merintis jalan bagi usaha pengembangan dan tradisi keilmuan.
Pada zaman Renaisance, tadisi keilmuan tidak secara langsung mewarisi peradaban Yunani, sebab baru setelah melalui terjemahan dan komentar dari sarjana dan filosofi Islam kebudayaan Yunani kemudian dijadikan objek kajian akademis zaman Renaisance.
Perpindahan peradaban Islam dari Spanyol dimungkinkan karena usaha terjemahan yang diperitahkan Alphonse X Raja Castille. Di Sicillia, Micael Scotus menterjemahkan karya Ibnu Sina dan karya Ibnu Rusyd yang merupakan kritisi dari karya-karya Aristoteles. Melalui Ibnu Rusyd, dunia Barat mulai menganut kebebasan berfikir dan menyerap kekayaan intelektuan Yunani Kuno.
Para murid Kristen juga yang telah selesai belajar ilmu pengetahuan dari filosof Muslim Arab Andalusia (Spanyol) kemudian kembali ke Eropa dianggap sebagai kaum revolusioner oleh pendeta-pendeta Kristen di negerinya. Hal ini terjadi karena kedatangan meraka membawa perubahan-perubahan besar dan radikal di Eropa[1].
Hal-hal di atas lah yang menunjukan bahwa peradaban Islam telah memberikan kontribusi terhadap peradaban Barat yang tumbuh besar sekarang ini. Namun, di abad-abad lampau kontribusi warisan intelektual Islam enggan untuk diakui. Selama ratusan tahun, barat menyangkal kontribusi warisan intelektual peradaban Islam ini.


[1] Suhelmi, Ahmad. Pemikiran Politik Barat: Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan. PT. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta. 2001. Halm 16-24

K. H HASIM ASY'ARI DALAM MASA PERJUANGAN

A.    Masa Kanak-Kanak Sampai Dewasa.
Pada tanggal 24 Dzulqodah 1287 hijriyah (14 Februari 1871)[1], lahirlah seorang bayi laki-laki dari pasangan Asy’ari dan Halimah disebuah desa Gedang, Jombang Jawa Timur, bayi tersebut  kemudian diberi nama Hasyim Asy’ari.  Menurut silsilah ia dipercaya masih merupakan keturunan dari bangsawan-bangsawan terkemuka yang pernah berkuasa ditanah Jawa ini. Semenjak kelahiranya sampai ia berumur 5 tahu ia tinggal ditempat kakeknya dan sambil belajar ilmu agama di pondok pesantren milik kakeknya  yaitu pondok pesantern Gedang. Beliau dididik sejak kecil mengenai ilmu-ilmu agama yan kelak menjadi bekal menjalani kehidupanya. Setelah ia berumur 6 tahun K.H Asy’ari kemudian pindah mengikuti orang tuanya kesebuah desa yaitu desa Keras. Di desa tersebut kemudian orang tuanya melekukan dakwah dan mendirikan sebuah pondok pesantren sebagai media dalam menyebarkan agama Islam. Disinalah K.H Hasyim Asy’ari melanjutkan studinya menuntut ilmu-ilmu agama melalui bimbingan orang tuanya sampai ia beumur lima belas tahun. Tidak berbeda dengan orang tuanya ia dikemudian hari juga mendirikan sebuah pesantren, hal tersebut terjadi mungkin karena sikap yang di tularkan dari orang tuanya yang juga mendirikan sebuah pesantren. Kehidupan beliau semenjak ia lahir sampai usia remaja berada dalam lingkungan pesantren, hal inilah yang mempengaruhi dan membentuk corak watak dan sikapnya dimasa depanya. Setelah selama 10 tahun beliau belajar ilmu agama dengan bimbingan orang tuanya pada usianya mencapai lima belas tahun beliau meneruskan studi islamnya ke berbagai pondok pesantren ternama di tanah Jawa timur yang kianya mempunyai keahlian-keahlian didalam bidang ilmu agama tertentu. Pondok pesantren yang pertama ia kunjungi pada saat itu adalah pondok pesantren Wonokoyo di daerah Jombang. Setelah ia selesai menguasai ilmu yang diajarkannya ia kemudian melajutkan perjalanannya dan mendatangi pondok pesantren Probolinggo. Selesai di Probolinggo beliau melanjutkan kembali ke pondo pesantren Terenggelis. Dan masih banyak pondik pesantren lainya di Jawa Timur yang di datangi untuk menambah ilmunya.[2] Walaupun beliau telah belajar dan berhasil menguasai ilmu-ilmu agama dibeberapa pondok pesantren terkemuka di Jawa Timur namun hasrat beliau untuk tetap menuntut dan belajar ilmu keagamaan Islam masih terus menggebu-gebu. Akhirnya memutuskan untuk pergi dan menggembara ke luar Jawa untuk memperdalam ilmu pengetahuan agamanya, tempat yang di tuju ialah sebuah Pondok Pesantren di daerah Madura. Namun setelah selesai belajar di Madura ternyata ia merasa bahwa ilmu yang di dapatnya belumlah cukup untuk bekal kehidupanya sehingga ia melanjutkan studinya di Sidoarjo, yaitu seuah pondok pesantren yang benama Siwalan Panji. Di dalam pondok tersebut ia di bimbing oleh seorang kiai yaitu kiai Yakub. Disana beliau dalam menuntut ilmu agamanya sangat cepat diterimanya dan beliau jiuga murid yang tergolong cerdas dan pintar. Sikap dan perilakunya yang sopan santun ternyata mengundang perhatian tersendiri dari kiai Yakub sehingga suatu saat ia di panggil oleh kiai yakub untuk dianggap bicara mengenai pikiran yang ada dibenak kiai Yakub tersebut. Ternyata perhatian kiai tersebut yang selama ini ada dalam pikiranya yaitu menjodohkan K.H hasyim Asy’ari dengan putrinya yang bernama Khadijah. Tawaran tersebut sangat membingungkan K.H Hasyim Asy’ari, di satu sisi ia mempunyai cita-cita dan harapan untuk bisa menuntut ilmu dan memperdalam lebih lanjut karena ia merasa ilmu yang selama ini ia peroleh belumlah cukup hanya sampai di sini saja, ia menginginkan agar ilmu yang di dapatnya lebih dari sekedar itu. Namun dilain pihak beliau tidak ingin mengecewakan guru yang selama ini membimbingnya. Sebenarnya apa yang di ragukan dan difikirkan oleh K.H Hasyim Asy’ari telah diketahui oleh Kiai Yakub dan akhirnya Kiai Yakub pun memberikan nasihat dan wejangan dan mengatakan bahwa mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim, dan mencar ilmu itu tidak ada batasanya seperti luasnya lautan, ia juga mengatakan menikah bukanlah halangan bagi seseorang untuk mencari ilmu selama niat yang ada pada orang tersebut terus menggebu-gebu. Akhirnya untuk memutuskan hal tersebut ia meminta pertimbangan kepada orang tuanya, dan ternyata orang tuanya pun menyetujui hal tersebut. Sehingga ia memutuskan untuk menerima tawaran tersebut dan menikah dengan putri Kiai Yakub, dan ketika itu K.H berusia 21 tahun.
Setelah ia menikah dan menetap ditempat mertuanya kemudian ia dan keluarganya memenuhi rukun Islam yang terakhir yaitu melaksanakan ibadah haji ke Makkah, sekaligus ia menetap disana untuk memperdalam ilmunya dan sampai ia khirnya istrinya melahirkan, namun nasib baik belum berada dipihaknya, K.H Hasyim Asy’ari mendapat ujian dari dengan di ambil nyawa anak dan istrinya. Disana beliau belajar dari berbagai kiai-kiai besar dan hebat yang ada di Makkah. Kebetulan pada saat beliau berada di Makkah disana sedang terjadi gerakan pan Islamisme yang di pelopori oleh Jalaludin Al-Afgani dan Muhammad Abduh. Hal tersebut sangatlah berpengaruh terhadap pemikiran K.H Hasyim Asr’ari ketika pulang ke tanah air.
B. Peranan K.H Hasyim Asy’ari Dalam Nahdlatul Ulama Terhadap Perjuangan Melawan Kolonialisme.

Berbicara masalah kelompok Jam’iyah islam Nahdlatul Ulama tidak akan pernah bisa lepas dari peran dan sosok K.H Hasyim Asy’ari. K.H Hasyim Asy’ari sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan organisasi ini karena pemikiran beliaulah organisasi ini bekembang pesat hingga tersebar di hampir seluruh Jawa. Beliau adalah sosok yang sangat karismatik sehingga tak heran apabila para kiai pengasuh pondok pesantren didaerah Jawa Timur  dan Jawa Tengah waktu itu sangatlah menghormati diriya, bahkan orang yang pernah menjadi guru dan pembimbingnya semasa ia berada di pondok pesantren, sekarang ia mengganggap bekas muridnya itu menjadi gurunya. Jam’iyah (organisasi) Nahdlatul Ulama adalah organisasi yang lahir di tengah-tengah kemajuan dan kemegahan bangsa barat yang sedang menjajah bangsa kita ini. Untuk mempertahankan organisasi ini  bukanlah suatu usaha yang mudah  pada masa itu, karena pemerintah kolonial pada masa itu tidak ingin ada kekuatan dalam masyarakat pribumi karena di anggap akan membahyakan kekuasaanya di Nusantara ini. Walaupun beliau menjadi pemimpin yang besar dalam organisasi tersebut dan organisasinya berkembang secara pesat namun ia tidak pernah membenci jam’iyah-jam’iyah lainya yang ada, justru beliau menginginkan persatuan yang harus galakan dan ditegakan sesama umat muslim. Karena tanpa persatuan tersebut umat muslim yang jumlahnya banyak pun akan mudah didipecah belah.
Sehubungan dengan diterapkanya kebijakan plitik Etis oleh pememrintah Belanda maka dimulailah babak baru dimana rakyat dan tanah air ini mengalami pengeksploitasian secara besar-besaran. Banyak masyarakat pribumi yang menjadi korban dari kebijakan tersebut sehingga melahirkan perasaan-perasaan benci yang teramat mendalam terhadap pemerintah. Kesengsaraan melanda masyarakat pribumi yang menyebabkan menimbulkan perubahan sosial dan pemiskinan rakyat khususnya yang berada di daerah pedesaan.  Tatanan kebijakan pemerintah terhadap masyarakat pribumi yang menyengsarakan ini mengakibatkan keinginan untuk diadakan tatanan pemeritahan yang baru yang bisa membawa mereka kearah yang lebih baik. Untuk mewujudkan impianya tersebut masyarakat kemudian melakukan aksinya dengan melakukan protes terhadap pemerintah. Melihat hal tersebut K.H Hasyim Asy’ari berusaha untuk memahami dan melakukan dakwahnya dengan cara-cara yang tepat. Pondok pesantren di Jawa waktu itu sangatlah menutup pengaruh dari luar khususnya pengaruh dari bangsa kolonial yang di anggap merusak moral-moral Islam. Segala bentuk pengaruh yang berbau barat pasti akan ditolaknya sehingga masyarakat pesantren menjadi kolot dan tertinggal. Hal ini terjadi secara terus-menerus sampai datang pemikiran modern yang sadar akan ketertinggalannya.
Perjuangan K.H Hasyim Asy’ari dilakukan dengan mengobarkan semangat pembaharuan pada tahun 1926[3] terhadap masyarakat pondok pesantren yang sangat masih menutup diri dari pengaruh luar. Selain ilmu-ilmu agama yang di ajarkan didalam pondok ia juga memperbolehkan ilmu-ilmu umum di ajarkan dengan tujuan agar mereka tidak tertinggal dengan bangsa Barat. Awalnya pembaharuan ini tidak disetujui oleh golongan kiai kiai yang sudah tua namun setelah dijelaskan oleh K.H Hasyim Asy’ari dengan alasan untuk menghancurkan mereka kita harus mengetahui dahulu lawan kita, akhirnya pembaharuan tersebut dapat diterima oleh golongan Kiai-kiai tua. Walaupunbeliau membebolehkan pengaruh arat masuk namun beliau tetap meyaring setiap sesuatu hal yang masuk. Pemerintah pada saat itu menyadari bahwa kekuatan yang ada dalam masyarakat Islam tersebut dapat membahayakan dirinya, sehingga pemerintah memutuskan untuk mempengaruhi K.H Hasyim Asy’ati dengan iming-iming gaji yang besar dan tanda kehormatan, namun semua itu di tolah oleh beliau dengan dalih bahwa beliau tidak mau mengurangi rasa iklasnya dalam pengabdian terhadap agama Islam.



[1] Dwi Purwoko, Negara Islam, Percikan Pemikiran: H. Agus Salim,K.H Mas Mansur, K.H  Hasyim Asy’ari dan Mohammad Natsir. ( Depok: P.T ermata Artistika Kreasi, 2001), Hal. 45
[2] Heru Sukadri, Kiai Haji Hasyim Asy’ari: Riwayat Hidup dan Pengabdianya (Jakarta: Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional,1985) Hal 32
[3] Heru Sukadri, Kiai Haji Hasyim Asy’ari: Riwayat Hidup dan Pengabdianya (Jakarta: Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional,1985) Hal. 96

PERLAWANAN SULTAN HAMENGKU BUWONO II TERHADAP PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA


PENDAHULUAN


Sosok Sultan Hamengku Buwono II salah satu raja Jawa yang sangat kontrafersial. Pada saat sekarang ini banyak orang yang kurang mengenal sosok yang satu ini , padahal beliau adalah raja Jawa yang sangat gigih mempertahankan tradisi-tradisi dari pengaruh pengaruh bangsa Eropa yang kala itu telah berkuasa dan menjajah tanah jawa ini. Bahkan raja Jawa yang satu ini mungkin saat ini terkenal dengan sikap-sikap negatifnya, karena selama ini banyak peneliti yang menulis tentangnya mengunakan arsip-arsip hindia belanda yang belum ada sumber dari pihak kita yang dapat di jadikan sumber yang dapat dignakan sesuai dengan sesuai.
 Sultan Hamengku Buwono II adalah seorang raja kesultanan Jogjakarta yang ke dua setelah menggantikan ayahnya yang bernama Mangkubumi sekaligus segabai pendiri kerajaan tersebut. Sultan Hamengkubuwono II juga sering di sebut juga sebagai sultan sepuh.   Selama ini banyak orang yang melupakan atau bahkan tidak tau tentang kepemimpinan beliau saat memerintah dulu. Sultan yang yang satu ini terkenal keras dan sangat anti terhadap pemerintah kolonial sangat membuat orang orang Eropa yang pada saat itu datang ke bumi Jawa ini untuk menjajah kewalahan karena memang sikapnya yang keras.
Sumber-sumber sejarah selama ini khususnya sumber sejarah arsip kolonial meceritakan bahwa sosok Sultan Hamengkubuwono II adalah orang yang sangat kejam, kers kepala, tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Hindia belanda. Sejak usia muda, Sultan Hamengku Buwono II (HB II) telah menunjukkan pribadinya sebagai bangsawan Yogyakarta yang menjaga integritas dan kekuasaan Kesultanan Yogyakarta. Ia menjadi musuh utama Belanda yang dianggap telah melakukan intervensi terlalu jauh dalam kehidupan kraton Yogyakarta yang menurunkan wibawa raja-raja Jawa. Setelah memegang tampuk pemerintahan tahun 1792, ia tetap menunjukkan tekadnya untuk menjunjung tinggi kebesaran tradisi dan kewibawaan Kesultanan Yogyakarta. Hal ini mengakibatkan terjadinya benturan dengan tuntutan dan kepentingan para penguasa kolonial yang ingin memaksakan kehendaknya kepada raja-raja Jawa. Atas dasar itu, Sultan HB II selalu melawan tekanan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Sebagai akibat dari sikapnya itu, pemerintah kolonial menggunakan berbagai alasan untuk menurunkan tahtanya.
Selama hidupnya, Sultan HB II mengalami dua kali penurunan tahta (tahun 1811 oleh Daendels dan 1812 oleh Raffles), bahkan dibuang sebanyak tiga kali sebagai hukuman yang dijatuhkan kepadanya (Penang 1812, Ambon 1817, dan Surabaya 1825). Pemerintah kolonial akhirnya harus mengakui kewibawaan Sultan HB II yang terdesak sebagai akibat dari pecahnya perang Diponegoro. Ia dibebaskan dari pembuangannya dan dilantik kembali menjadi raja di Yogyakarta. Sampai akhir hayatnya Sultan HB II tidak pernah mau bekerja sama dengan Belanda apalagi untuk menangkap Diponegoro atau menghentikan perlawanannya. Hingga kini masih banyak karya peninggalan Sultan HB II yang mengingatkan pada watak dan masa pemerintahannya. Baik karya sastra, karya seni maupun bangunan fisik mengingatkan pada kebijakan, tindakan dan watak Sultan HB II semasa hidupnya.  



KEKUASAAN KOLONI HINDIA BELANDA DI JAWA

        Setelah runtuhnya kelompok dagang VOC pada 1 Januari 1799[1], pada tahun 1817 disusul berdiri pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang akan memerintah tanah jawa menggantikan VOC yang sebelumnya memerintah tanah Jawa. Hak milik yang dulu dipunyai VOC di tanah jjawa ini dialihkan kepada pemerintah Belanda. Pada saat itu juga sedang terjadi gejolak di Eropa, yaitu sebuah pepeangn yang terjadi antara Prancis dan Belanda. Namun akhiranya peperangn tersebut di menangkan oleh Prancis. Karena Belanda kalah perang dan dikuasai Perancis maka sesuai hukum peperangan apa yang dimiliki pihak yang kalah maka akan pindah menjadi milik pemenang begitu pula dengan wilayah-wilayah yang dimiliki oleh Belanda kini menjadi milik Perancis. Pada saat negri Belanda dikuasai Prancis "Republik Batavia" di Belanda diubah namanya di bawah kekuasaan Prancis menjadi "Kerajaan Belanda", dengan Louis, saudara laki-laki Napoleon, sebagai rajanya[2].
        Pemerintahan Belanda yang dikuasai Perancis menunjuk Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda. Ia tiba di Hindia Belanda pada 1 Januari 1808. Ia memindahkan tempat kediaman resminya ke Buitenzorg (kini dinamai Bogor). Daendels memerintah dengan menjalankan prinsip-prinsip pembaharuan dengan metode-metode kediktatoran ke Jawa. Ia juga mengangkat wakil-wakilnya di jawa yang di tempatkan di kraton-kraton Jawa yang di sebut dengan Menteri [3] dengan tujuan agar dapat mengetahui dan mengawasi Raja-raja Jawa dalm kegiataanya. Ia juga menuntut agar mentri wakil dari kerajaan belanda di perlakukan sama seperti raja-raja Jawa. Daendels berusaha memberantas ketidakefisienan, korupsi, penyelewengan-penyelewengan dalam administrasi Eropa. Akibat rasa tidak suka dari naluri-naluri anti feodal, Daendels menganggap penguasa Jawa sebagai pegawai administrasi Eropa.
            Peran Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang kejam dan rakus berakhir pada tanggal 16 Mei 1811, dan digantikan oleh J.W. Jansens. Jabatan Jansens sebagai Gubernur Jenderal hanya beberapa bulan saja, sebab setelah itu pasukan Inggris menyerbu Belanda, di mana akhirnya Belanda menyerah kalah di Kali Tunntang, Salatiga, Jawa Tengah. Peralihan kekuasaan antara Belanda kepada Inggeris, dipergunakan se¬baik-baiknya oleh Sultan Sepuh (Sultan Hamengku Buwono II) untuk merebut kembali kesultanan Yogyakarta. Usaha ini berhasil dan bahkan sultan sepuh memerintahkan agar Patih Danureja II dihukum mati, karena persekongkolannya dengan Belanda.
Kehadiran Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderal penguasa kolonial Inggeris di Indonesia, mengokohkan kekuasaan Sultan Sepuh dengan jalan tetap mengakui Sultan sepuh sebagai Sultan Hamengku Buwono II yang berkuasa di daerah Yogyakarta dan menetapkan Sultan Hamengku Buwono III menjadi Adipati Anom[4].
Raffles meminta tanah daerah-daerah Kedu, Bojonegoro dan Mojokerto kepada Sultan HB II atau Sultan Sepuh agar  menyerahkan tanah bekas dari pemerintahan Daendles dulu yang memerintah sebelumnya. Tetapi keinginan Reffles di tolak oleh Sultan Sepuh sehinga Reffles mengirimkan armada perangnya menuju Yogyakarta untuk menundukan Sultan Sepuh. Sultan akhirnya dapat di taklukan dan kemudian di asingkan ke Penang. Berbeda dengan sultan hamengku Buwono II justru ia malah membantu Reffles. Sehingga setelah Sultan sepuh diasingkan sulatan Hamengku Buwno III naik tahta. 
Pada awal tahun 1815 di Eropa diadakan kongres Wina. Kongres ini dihadiri oleh semua wakil negara Eropa yang terlibat dalam peperangan Napoleon, termasuk Prancis. Salah satu keputusan kongres itu adalah pemulihan wilayah seperti kondisi sebelum tahun 1795. Dengan adanya kesepakatan ini, Inggris wajib mengembalikan Jawa kepada Belanda. Sebagai konsekuensi keputusan Kongres Wina, pada bulan April 1815, Raffles menerima berita ini dan ia mulai bersiap-siap meninggalkan Jawa. Agar tidak menimbulkan kesulitan bagi pemerintah Inggris, Raffles memutuskan untuk mengembalikan semua tawanan termasuk Sultan HB II. Atas instruksinya, Mayor W.P. Kree komandan Fort Cornwallis mengirim kembali Sultan HB II ke Batavia pada tanggal 10 April 1815[5].  Setelah itu pemerintahan kolonial kembali ke tangan Belanda lagi. 
PERLAWANAN SULTAN HAMENGKU BUWONO II
TERHADAP PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA

Sultan Hamengku Buwono II lahir di lereng gunung Sindoro pada hari Sabtu Legi tanggal 7 Maret 1750, daerah Kedu Utara. Ketika lahir, Sultan HB II diberi nama Raden Mas (RM) Sundoro. Nama ini diberikan sesuai dengan nama tempat kelahirannya yang berada di lereng gunung Sindoro. RM Sundoro adalah putra Pangeran Mangkubumi, yang menjadi raja pertama di Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755 dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I
Raden Sundoro sejak kecil hidup di tempat kelahiranya tanpa menikmati fasilitas-fasilitas umumnya seperti layaknya seorang putra mahkota. Pada saat itu ayahnya Pangeran Mangkubumi sedang berperang dan bergeriliya melawan pemerintahn VOC dan kerajaan Mataram yang kala itu di pimpin oleh Paku Buwono III. Medan perang Mangkubumi yang membentang begitu luas membuat Raden Sundoro tidak pernah melihat ayahanya sebelum perang berakhir dan sampai usia sekitar lima tahun ia tetap di asuh oleh ibunya Kanjeng Ratu Kadipaten, permaisuri kedua Pangeran Mangkubumi.
Pada tanggal 13 Februari 1755 di tandatangani perjanjian Giyanti yang membagi wilayah mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Jogjakarta dan Kesunanan Surakarta dan sekaligus mengakhiri perang saudara[6]. Dengan di tandatanganinya perjanjian Giyanti berakhirlah peperangan yang dilakukan ayah Raden Sindoro. Sejak itu didirikanlah kesultanan Yogyakara Hadiningrat oleh Mangkubumi di Yogjakarta dengan gelar Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurakkhman Sayidin Panatagama Kaliftullah yang sering di sebut Hamengku Buwono I dan seluruh keluarganya di boyong ke keraton baru itu termasuk Raden Sindoro permaisurinya. Raden Sindoro kini mulai hidup dilingkungan kraton bersama keluarganya, ayahnya sangat menyayanginya. Ayahnya menunjuknya sebagai putara mahkota sejak ia di khitan. Ayahnya mengenal betul  karakter Raden Sindoro yag keras, hal tersebut akibat dari pengalaman hidupnya yang sejak kecil berada di pengungsian menuggu ayahnya bergerilya. Sebagai putra mahkota Raden Sindoro juga turut aktif membantu ayahnya dalam mementukan kebijakan terutama jika berkaitan dengan pemerintah Hindia Belanda, ia selalu berusaha melawan pemerintah koloni dengan cara menyampaikann ide-idenya kepada ayahnya.
Sepeniggal ayahnya ( HB I) pada tanggal 24 Maret 1792  Raden  Sindoro naik tahta dan menjadi raja menggantikan ayahnya pada tanggal 2 April 1792 dengan gelar Sultan Hamengku Buwono II[7]. Selama masa pemerintahannya, sifatnya yang anti-kolonial semakin jelas. Sultan HB II menyadari bahwa orang-orang Belanda merupakan ancaman utama terhadap keutuhan wilayah dan kewibawaan raja-raja Jawa khususnya di Kesultanan Yogyakarta. Berbeda dengan Sunan PB IV yang berambisi untuk memulihkan kekuasaan ayahnya sebagai raja Mataram, Sultan HB II tidak berpikir untuk mengembalikan wilayah Kerajaan Mataram lama di bawah satu pemerintahan. Sebaliknya, tujuan utama Sultan HB II adalah menjadikan Kesultanan Yogyakarta sebagai suatu kerajaan Jawa yang besar, berwibawa dan disegani oleh para penguasa lain termasuk oleh orang-orang Eropa. Harapan Sultan HB II adalah Kesultanan Yogyakarta menjadi penegak dan pendukung utama tradisi budaya dan kekuasaan Jawa. Bertolak dari konsep ini, Sultan HB II bertekad untuk menolak semua intervensi Belanda yang mengakibatkan merosotnya kewibawaan raja Jawa dan berkurangnya wilayah kekuasaan raja-raja Jawa[8].
Sultan Hamengku Buwono II adalah raja Jawa kesultanan Yogjakarta yang pernah memerintah dan naik tahta sebanyak empat kali. Sultan Hamengku Buwono II memerintah pada tahun  1792 dan 1828. Raja ini sangat terkenal keras kepala terhadap oarang-orang Eropa/Belanda. Memang sultan Hamengku Buwono II sejak kecil sudah menunjukan rasa dan sikap kebencianya terhadap kolonial yang berbuat semena-mena terhadap rakyatnya pada saat tangkup pemerintahan masih di pegang oleh ayahnya yaitu Mangkubumi denga gelar Sultan Hamengku Buwono I. Pada waktu Sultan memegang pemerintahan pada saat itu sedang terjadi pergolakan politik di negeri para penjajah atau Eropa, sehingga koloni di Jawa pun mengalami perubahan empat kali rezim kolonial dalam kurun waktu kurang dari setengah abad, yaitu dari VOC, Prancis, Inggris dan Belanda. Dan kala itu koloni beralih ke tangan Inggris[9]. Perubahan rezim tersebut pun sangat berdampak pada kebijakan yang di terapkan oleh setiap rezim yang menerapkan peraturan baru setiap memegang dan ada pula yang hanya meneruskan rezim sebelumnya, kepada raja-raja di Jawa termasuk raja Yogjakarta. Hal tersebut sangatlah merugikan raja-raja Jawa sehingga sering timbul konflik-konflik diantara kedua pihak yang mempunyai kepentinggan.
Sosok sultan Hamengku Buwono II sangatlah tegas dalam menentang kekuasaan pemerintahan kolonial di Jawa yang dianggap sangat merugikan dan menurunkan wibawa-wibawa raja Jawa. Pada sumber-sumber sejarah dan arsip-arsip kolonial sosok Sultan digambarkan raja yang kejam, tidak mau di ajak kompromi, kejam tidak segan-segan menyingkirkan siapapun yang dianggap menghalanginya walaupun keluarganya sekalipun. Hal tersebut dapat kita jadikan  gambaran betapa bencinya orang-orang Eropa yang berusaha menjajah Jawa terhadap Sultan Hamengku Buwono II yang sangat anti kolonial itu.
Pada saat Hindia Belanda di pimpin oleh Gubernur Daendles yang mewakili Prancis dari kerajaan Belanda yang kala itu di pimpin oleh raja Louis adik dari Napoleon yang menjadi raja Belanda. Daendles dalam pemerintahannya sangatlah bertidak radikal terhadap raja-raja di Jawa khususnya Surakarta dan Yogyakarta. Ia menempatkan wakil-wakilnya yang disebut Minister di dalam kerajaan kerajaan tersebut yangdi maksudkan untu mengawwasi kegiatan –kegiatan Raja. Dan Deandles juga menuntut agar wakil-wakilnya di perlakukan sama seperti raja. Raja dari Surakarta menerima begitu saja aturan yang diberlakukan oleh Daendles tetapi lain dari raja Yogajakarta (Hamengku Buwono II) ia menolak mentah-mentah aturan yang di berlakukan oleh Gubernur Daendles karena ia menganggap hal tesebut berlebihan dan telah melanggar kode etik dan tradisi Kerajaannya dan hal tersebut juga akan menurunkan wibawanya. Hal tersebut mengundang reaksi dari Deandles yang segera mendatangkan pasukan militernya yang langsung dipimpinya menuju Yogjakarta[10].
Sultan juga menolak dan keberatan apabila setiap penggangkatannya, patih harus menandatangani suatu perjanjian yang menetapkan bahwa tanah-tanah yang di berikan kepada sultan hanya sebagai pinjaman hal tersebut tentu sangat membuat Sulan tersinggung dan marah terhadap pemerintah kolonial.
Sultan juga menolak permintaan Daendles yang meminta pengambilalihan hak pengelolaan hutan dan penyerahan monopoli penebangan kayu milik raja-raja Jawa[11]. Daendels menghendaki agar monopoli penebangan kayu dikuasai oleh pemerintah mengingat persediaan kayu di hutan-hutan pemerintah tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur pertahanan Jawa.
Gubernur jenndaral rezim colonial setelah Daendles di gantikan oleh Jan Willem Janssens gubernur ini memusatkan perhatianya pada pertahanan Jawa yang di serang Inggris. Namun pada akhirnya Jan Willem Janssens kalah dan Jawa berhasil di kuasai oleh Inggris dengan Thomas Stamford Raffles sebagai letnan gubernur jenderalnya. Pada masa ini Reffles menuntut agar perjanjian yang di buat dulu pada waktu dipegang oleh Daendles juga di berlakukan sama seperti dulu. Pada saat itu ada rencana untuk mengusir Inggris dai Jawa oleh kedua kerajaan tersebut namun hal itu di ketahui oleh Reffles shingga Refles memerintahkan prajuritnya untuk menyerbu Yogoyakarta dan mendapat sambuatn dari tentara-tentara kraton namun akhirnya Sultan tertangkap dan di asingkan Penang.
Setelah di adakan perjanjian Wina yang isinya mengembalikan Jawa dari tangan Inggris ke tangan Belanda, kini Jawa di perintahlagi oleh Belelanda. Perbuatan Belanda semakin Tidak dapat di biarkan saja sehingga cucu sultan sepuh yang bernama pangeran Diponegoro melakukan pemberontakan. Pemberontakan ini cukup membuat Belanda mennggung kerugian yang besar. Untuk mengatasi pemberontakan tersebut belanda meinta Sultan Sepuh untuk memerintah kembali dan naik tahta. Hal itu ditujukan agar dapat meredakan pemberontakan yang dilakukan oleh cucunya.
Sejak Oktober 1827 kondisi fisik Sultan HB II yang berusia 77 tahun semakin merosot. Beban batin yang ditimbulkan oleh posisinya sebagai seorang raja Yogyakarta dan harus berhadapan dengan anak dan cucunya sendiri semakin memperparah penyakitnya. Akhirnya setelah mengalami radang tenggorokan, pada tanggal 2 Januari 1828 Sultan HB II wafat. Dua hari kemudian jenazahnya dimakamkan di pemakaman raja-raja di Imogiri[12].


KESIMPULAN
       Dari uraian tersebut bisa diketahui bahwa Sultan HB II adalah seorang raja yang tegas dan tidak mau menyerah kepada tekanan asing. Sebagai seorang raja Jawa, Sultan HB II merasa wajib menjunjung tinggi dan membela kewibawaan kekuasaan Jawa yang terwujud dalam tradisi. Ketika tradisi Jawa yang menjadi idealismenya terancam oleh tindakan penguasa asing, Sultan HB II tidak segan melawannya meskipun musuhnya jauh lebih kuat.
Hal ini jelas terlihat pada saat Sultan HB II menolak permintaan van Overstraten tentang kedudukan utusan Belanda yang akan disamakan dengan raja Jawa. Begitu juga dengan tuntutan Daendels untuk mengubah tata aturan penyambutan Minister yang merendahkan martabat seorang raja Jawa, Sultan HB II dengan tegas menolaknya. Bahkan, selama masa pemerintahannya, Sultan HB II tidak pernah mau menerapkan aturan baru Daendels ini. Ketentuan tersebut baru berhasil dilaksanakan setelah Sultan HB II turun tahta dan digantikan oleh putra mahkotanya.
Pada masa pemerintahan Inggris, Sultan HB II tampil sebagai seorang raja Jawa yang berani menghadapi Raffles bersama pasukannya meskipun harus mengorbankan dirinya dan kratonnya. Ketika untuk kedua kalinya diturunkan tahta pada tahun 1812 dan dibuang ke luar Jawa, Sultan HB II tidak pernah menyatakan bersedia menyerah kepada penguasa kolonial. Begitu juga ketika dirinya dibuang ke Ambon oleh pemerintah kolonial pada tahun 1817, Sultan HB II tidak bersedia menyerah. Keinginannya kembali adalah agar ia dapat dimakamkan berdekatan dengan ayahnya di Imogiri. Ketika Belanda memerlukannya untuk kembali naik tahta pada tahun 1826 dengan harapan menggunakan pengaruhnya untuk menyelesaikan perang Diponegoro, Sultan HB II tetap menolak membujuk Diponegoro agar menghentikan perlawanan atau menyerah kepada Belanda. Sebaliknya, pengaruh Sultan HB II di antara para pangeran pengikut Diponegoro tampak besar, yang terbukti dengan adanya penyerahan sejumlah bangsawan Yogya yang kembali ke kraton dan menghentikan perlawanannya.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa Sultan HB II adalah sosok raja Jawa yang pantang menyerah dan taat pada ajaran tradisi Jawa. Dirinya tetap menjadi raja yang disegani dan dihormati sebagai seorang raja yang mempertahankan tradisi dan kekuasaan Jawa.
SARAN
Dalam penulisan ini sebagai manusia biasa yang masih jauh dari kesempurnaan dan tak mungkin lepas dari kesalahan, saya yakin banyak kesalahan yang ada dalam tulisan saya ini, untuk itu saya harapkan kritik dan saranya agar dapat menjadi koreksi dan tak terulang lagi dalam penulisan-peulisan berikutnya. Kritik dan saran pembaca sekaian sangat saya harapkan demi untuk menperbaiki kualitas tulisan saya ini.












DAFTAR PUSTAKA

Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV: Edisi Pemutahiran, Jakarta:Balai Pustaka, 2008
Suratmin dkk. Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Istimewa Yogjakarta, Jakarta: Depdikbud dari Ditektorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1990
Kutoyo, Sutrisno dkk. Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta: Depdikbud RI, 1997
Marihandono, Djoko. Sultan Hamengkubowono II: Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa, Yogyakarta: Banjar Ali, 2008. Hal.30
Ricklef. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta:Gajah Mada Univercyti Press. 1994

Sumber Rujukan:




[1] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV: Edisi Pemutahiran, Jakarta:Balai Pustaka, 2008.  Hal. 52
[2] Ricklef. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta:Gajah Mada Univercyti Press. 1994.Hal 170.
[3] Sutrisno Kutoyo dkk. Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta: Depdikbud RI, 1997, Hal.111.
[5] Djoko Marihandono, Sultan Hamengkubowono II: Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa, Yogyakarta: Banjar Ali, 2008. Hal.34
[6] Tim penulis Suratmin dkk. Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Istimewa Yogjakarta, Jakarta: Depdikbud dari Ditektorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1990. Hal.47
[7] Tim penulis Suratmin dkk. Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Istimewa Yogjakarta, op.,cit. Hal.47
[8] Djoko Marihandono, Sultan Hamengkubowono II: Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa, op.,cit. Hal.30
[9] Sutrisno Kutoyo dkk. Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, op.,cit, Hal. 118.
[10] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV: Edisi Pemutahiran, op.,cit.  Hal. 57
[11] Djoko Marihandono, Sultan Hamengkubowono II: Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa, op.,cit. Hal. 31
[12] Ibid., Hal. 36