Sistim pendidikan yang berkembang di Hindia-Belanda telah berada sejak abad 17 yang lalu, hanya saja masih terbatas jumlahnya dan didirikan didaerah-daerah direct rule, hal tersebut adalah sistim pendidikan yang pertama yang didirikan oleh pemerintahan Hindia Belanda yang mengadopsi pendidikan Bangasa Barat atau Eropa. Pendidikan ini tetapi hanya berupa pendidikan yang berkaitan dengan agama kristen yang waktu itu digunakan sebagai sarana untuk mendidik dan mengembangkan agama kristen pada anak-anak bangsa Eropa. Hal ini memang salah satu media alat yang di gunakan sebagai pengembangan agama yang di bawa dari asal mereka. Selanjutnya pada abad 19 didirikan sekolah yang memisakan antara masalah agama dan masalah-masalah keduniawian. Hal tersebut terjadi karena perkembangan pemikiran yang rasional dari kalangan bangsa barat, sehingga munculah ide untuk memisahkan antara masaah keduniawiaan dan msalah agama didalam pendidikan. Sistim pendidikan ini dibangun dibeberapa kota besar saja yaitu diantaranya di Jawa, Sulawesi, Maluku, Sumatra dan Nusatenggara. Pendidikan ini hanya menekankan pada masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan dan keduniawiaan, semula sekolah ini hanya di peruntukan untuk masyarakat kolonial, namun sesuai dengan perkembanganya pada akhirnya sekolah ini terbuka juga untuk masyarakat pribumi Priyayi. Perkembangan selanjutnya didirikan beberapa sekolah-sekolah umum oleh beberapa golongan yang terbuka untuk semua kalangan. Murid-muridnya semakain banyak yang terdiri dari berbagai lapisan dan golongan etnis, namun sebanyak-banyaknya jumlah murid yang bersekolah pada masa itu tetap terhitung masih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada di Hindia-Belanda.
Pemerintah pada tahu 1892 mulai menerapkan sistematika dalam dunia pendidikan di Hindia-Belanda yang pada waktu itu banyak terdapat perbedaa antara pulau satu dengan pulau lainaya. Dalam hal tersebut pemerintah menerapkan peraturan tentang pembagian sekolah dasar menjadi dua buah kelompok, yaitu yang pertama kelompok Sekolah Angka Satu (Erste School). Sekolah ini hanya di peruntukan untuk orang-orang pribumi golongan priyayi dan hanya terdapat di ibukota karesidenan. Sekolah ini mendidik siswanya selama lima tahun yang menggunakan bahasa daerah dengan pelajaran yang di ajarkan meliputi membaca, menulis, menghitung, ilmu bumi menggambar dan sejarah serta ilmu alam ataupun ilmu tanah. Tenaga pendidik sekolah ini diambilan dari sekolah-sekolah guru yang telah didirikan sebelumnya. Dengan adanya sekolah ini maka sekolah-sekolah raja yang pernah ada sebelumnya dilebur kedalam sekolah ini dan hanya tersisa satu sekolah yang tetap berdiri tidak dileburkan yaitu di daerah Magelang, Jawa Tengah yang kemudian digunakan untuk sekolah Jaksa. Pendidikan kelompok yang kedua yaitu pendidikan Sekolah Angka Dua (Tweede School). Sisitim pendidikan sekolah ini selama 3 tahun dan diperuntukan untuk masyarakat umum pedesaan. Materi yang diajarkan meliputi membaca, menulis dan menghitung dan bahasa yang digunakan sebagai bahasa pengantar yaitu bahasa derah dan Melayu apabila tidak ada bahasa daerah setempat.[1]
Pada tahun 1901 pemerintah Hindia-belanda menerapkan kebijakan barunya yaitu kebijakan politik etis. Politik etis adalah politik yang diterapkan oleh pemerintah kolonial sebagai wujud dari balas hutang budi atas tindak pengeksporasian sumber daya yang telah di peras dari Indonesia tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Politik ini mengambil kebijakan ditiga sektor yang di antarnya yaitu irigasi, transmigrasi dan edukasi. Didalam bidang eduksi ini pemerintah memperbaharui dari sistim pendidikan yang telah ada sebelumnya sebelum politik ini di terapkan. Untuk meningkatkan pendidikan ini pemerintah Hindia-Belanda mempunyai dua pilahan pendapat sebagi tindak lanjut rencana yang akan dijalankan. Pendapat pertama yaitu bahwa sistim pendidikan yang telah ada sebelumnya (Sekolah Tingkat Dua) tidak tepat untuk dijalankan dan perlu disesuaikan dengan keadaan setempat. Sedangkan pilihan yang kedua adalah bahwa sistim pendidikan yang telah ada sebenarnya sudah baik hanya saja perlu di tingkatkan jumlah sekolah tersebut. Dari kedua pilihan tersebut diambilah pilihan pendapat pertama. Pada tahun 1907 sekolah dasar desa-desa mulai didirikan dan masalah untuk perawatan dan pembangunan di serahkan kepada masyarakat untuk bertanggung jawab. Pembinaan untuk masalah pendidikan ini berada dibawah departemen dalam negri. Sistim pendidikanya masih mengadopsi pada sisitim Sekoalah Tingkat Dua, lama sekolah dan kurikulumnya disesuaikain dengan keadaan desa tersebut. Sekolah ini mengalami kehancuran sejak dilanda krisis ekonomi pada tahun1929. Selain itu juga pada tahun 1902 berdiri sekolah Kedokteran atau lebih dikenal dengan nama STOVIA (School Top Opleiding van Inlandsche Artsen), sekolah ini adalah tersusan dari Sekolah Dokter Jawa yang ada sejak tahun 1871. Sekolah ini didirikan dengan tujuan untuk menciptakan tenaga medis yang diperuntukan di barbagai daerah. Pendidikanya dilaksankan di rumah sakit tentara Batavia dan lama pendidikanya hanya 2 tahun tetapi setelah namanya diubah menjadi STOVIA lama pendidikanya diubah menjadi 6 tahun dan harus mrngikuti kursus bahasa Belanda selama setahun dan menjadi total lama pendidikanya menjadi 7 tahun. Kursus ini dilakukan agar mudah dalam proses belaja mengajar karena penyampaiannya mengunakan bahasa Belanda. Pada mulanya bahasa pengantar yang digunakan dalam proses belajar mengajar di STOVIA menggunakan bahasa Melayu dan murid-muridnya menggunakan pakaian daerah. Siswa-siswanya berasal dari lulusan Sekolah Angka Satu. Sekolah ini juga ditingkatkan kembali dengan mengambil lulusan dari MULO di tahun 1914. Selain itu di Surabaya juga didirikan sekolah sejenis yang bernama Nederlandsche Indische Artsen School (NIAS).
Pada tahun 1914 Sekolah Tingkat Satu di ubah menjadi HIS (Hollandsch Inlansche School) dengan bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Belanda. Sekolah ini masih sama dengan fungsi sebelumnya yaitu digunakan untuk para anak-anak priyayi dan kadang juga tidak menutup kemungkinan untuk golongan lain. Dan di tahun ini juga didirikan sekolah lanjutan Meer Uitgebreid laager Onderwijs (MULO) untuk menampung lulusan dari HIS. Lama sekolah ini adalah 3 tahun dan menggunakan bahasa pengantarnya bahasa Belanda. Selanjutnya yaitu didirikan sekolah yang menampung dari lulusan sekolah desa (Sekolah Tingkat Dua) yang diberi nama Vervolgsshool. Lama pendidikanya selama lima tahun dan kurikulumya sama dengan sekolah HIS. Selain itu jug didirikan sekolah lanjutan atas yang di beri nama AMS (Algemeen Middel Baare School) untuk menampung lulusan dari MULO. Sekolah ini dididirkan pertama di Yogyakarta dengan kurikulum ilmu alam pasti atau (B), disusul dengan didirikan lagi di daerah Bandung dengan kurikulum Sastra Arab (A2) selanjutnya didirikan di Surabaya dengan kurikulum Sastra Timur (A2). Selanjutnya pada tahun 1927 pemerintah mendirikan sekolah tinggi kedokteran yang diberinama Geneeskudige Hoogeschool (HG), lulusan sekolah ini memakai gelar Arts dan statusnya sama dengan lulusan dari Universitas di negeri Belanda.
Selain sekolah-sekolah yang telah disebutkan di atas juga terdapat sekolah lainya seperti sekolah pamong praja. Sekolah pamong praja ini di didirkan di Magelang yang sebelunya adalah sekolah jaksa yang kemudian di ubah menjadi Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaaren (OSVIA). Lama sekolah ini lima tahun dan terbuka bukan hanya untuk kalangan priyayi saja namun juga rakyat biasa juga dapat memasukainya yang ingin berdinas di Pamong Praja. Bahasapengantarnya menggunakan bahasa Belanda. Namun sekolah ini masih terhitung sebagai sekolah dasar dan berdiri diberbagai daerah seperti Blitar, Madiun, Probolinggo, Magelang dan Bandung. Dan pada tahun 1929 sekolah in ditingkatkan menjadi sekolah menengah menjadi MOSVIA. Dan untuk menghasilkan tenaga jaksa didirikan sekolah Recths School pada tahun 1909. Dengan semakin banyaknya lulusan dari sekolah menengah maka didirikan sekolah hukum tinggi dengan nama Rehcts Hoogeschool (RH). Sekolah ini mencetak Hakim dan Jaksa dan menggunakan gelar yang sama dengan lulusan Universitas di Belanda.
Selain itu juga sebelumnya telah didirikan sekolah pertanian, namun mengalami kelesuan dan akhirnya ditutup. Pada tahun 1903 didirikan kembali di Bogor dengan nama Landbouwshool dan statusnya masih sekolah rendah namun pada 1911 dirubah dan ditingkatkan setatusnya menjadi sekolah menengah. Selain sekolah pertanian juga disebelumnya sekitar abad 19 telah dibuka sekolah pertukangan namun tak lin hlnya dengan sekolah pertanian pada awalnya dan akhirnya mengalami penutupan. Dan pada abad 20 tahun 1920 dicoba kembali untuk mendirikan sekolah pertukangan dengan nama Tehnchnische Hoogeschool (TH), kali ini tampaknya lebih berhasil dari udaha sebelumnya. Namun sekolah ini didirikan oleh golongan swasta dan pada akhirnya pada tahun 1924 di ambil alih oleh pemerintah. Dengan lulusannya menggunakan gelar (Ir) sam seperti di Belanda. Sekolah-sekolah tinggi yang telah dijelaskan diatas bukan serta merta didirikan khusus buat orang Indonesia, pada mulanya sekolah ini didominasi oleh orang-orang Belanda dan Cina namun setelah bangsa Indonesia diijinkan untuk masuk ke sekolah-sekolah tinggi Belanda maka semakin banyak pula orang Indonesia yang mengikuti pendidikan tersebut.[2]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar