Pada awal abad 20 adalah masa berkembangnya kesadaran kebangsaan yang timbul di kalangan masyarakat pribumi. Kesadaran ini dilatar belakangi oleh adanya pendidikan barat yang didapatkan oleh mereka, sehingga menjadikan tumbuhnya kesadaran kebangsaan pada diri mereka yang melahirkan nasionalisme. Pendidikan yang di berikan oleh bangsa barat semula didirikan hanya untuk kalangan orang-orang Eropa saja. Namun pada tahun 1900 pemerintah Hindia Belanda semakin meluaskan kekuasaanya yang bukan hanya terfokus di Jawa saja. Perluasan ini meliputi wilayah Sumatra dan lain-lain. Hal tersebut dilakukan karena hasil dari ketakutan pemerintah Hindia-Belanda akan meluasnya koloni-koloni bangsa Eropa lainya, yang dikhawatirkan akan mencaplok wilayah-wilayah strategis yang belum dikuasai Hindia Belanda. Dengan semakin meluasnya kekuasaan pemerintah maka kebutuhan akan tenaga-tenaga pemerintahan yang terdidik semakin bayak dibutuhkan oleh karena itu maka pemerintah mendidik Bumiputra agar bisa dipekerjakan dan dengan biaya yang murah. Seperti yang kita ketahu bahwa pada masa itu tenaga-tenaga ahli dari Eropa semakin jarang dan mahal untuk kisaran gajinya jika dibanding dengan tenaga Bumiputra. Semula pendidikan barat hanya diberikan untuk kalangan golongan priyayi saja, namuh setelah kebijakan pemerintah tersebut maka semakin banyak di antara Bumiputra yang mengenyam pendidikan tersebut dan bukan hanya dari kalangan Priyayi saja. Dari pendidikan tersebut munculah elit baru yang disebut dengan Priyayi rendahan. Munculnya Priyayi rendahan ini sebenarnya menjadikan persaingan baru antara Priyayi lama dan Priyayi baru (rendahan). Namun persaingan tersebut tidak menjadikan suatu masalah karena masih banyak lagi persamaan-persamaan yang dimiliki, seperti sama-sama memperjuangkan hak-hak Bumiputra.
Waktu itu Di Hindia Belanda orang-orang Belanda terbagi manjadi dua yang pertama adalah orang belanda totok atau keturunan asli yang mereka hanya pergi ke Hinida-Belanda untuk bekerja dan pulang lagi setelah masa pengsiunnya tiba. Mereka ini biasanya bekerja di dalam birokrasi dan pemerintahan ataupun di pihak sawasta. Dan yang golongan kedua adalah orang Belanda keturunan campuran (Indo), mereka ini biasanya menetap di Indonesia ( lahir di Hindia-Belanda dan sampai akhir hanyatnya pun tetap menetap di Hindia-Belanda). Mereka (Indo) mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan masyarakat Belanda totok dan diperlakukan sama seperti orang-orang Bumi putra. Hal tersebut terjadi karena keturunan Belanda campuran tersebut menggunakan unsur-unsur kebudayaan setempat dan kebudayaan-kebudayaan barat yang ada mulai terkikis bahkan unsur-unsur kebudayaan barat tersebut hilang. Sehingga mereka tidak mendapatkan fasilitas dan pelayanan yang sama. Hal tersebutlah yang menjadikan orang-orang Belanda campuran merasa didiskriminasikan dan menjadikan orang-orang seperti Douwes Dekker memperjuangkan hal tersebut. Douwes Dekker ini bergabung dengan dengan masyarakat pribumi yang sama-sama didiskriminasikan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Sementara orang-orang pribumi khususnya golongan priyayi juga telah mendapat pendidikan barat yang menjadikan mereka menjadi lebih terpelajar. Pribumi yang terpelajar inilah yang nantinya berpotensi untuk mencapai suatu tujuan masa depan bangsa ini, dari pendidikan ini munculah kaum elit baru. Kenapa disebut kaum elit baru karena dulu orang yang mendapat pendidikan hanyalah orang-orang golongan priyayi ningrat, sedangkan elit baru ini adalah rakyat biasa yang status sosialnya menigkat karena mendapat pendidikan barat tersebut. Sehingga disebut kaum elit modern baru. Kaum elit baru ini muncul dari sekolah-sekoah yang mencetak orang-orang intelektual khususnya Sekolah Dokter Djawa. Sekolah ini diubah namanya menjadi STOVIA pada tahun 1900-1902.[1]
Pelajar STOVIA yang pada waktu mempunyai faslitas nongkrong dirumah Douwes Dekker (orang Indo yang begitu peduli dengan masalah pendidkan di Hindia Belanda) sering berkumpul dan membincangkan seputar masalah-masalah sosial, ekonomi dan budaya yang terjadi. Kebetulan para pelajar STOVIA tersebut banyak yang menjadi penulis warta media Hindia-Belanda yang waktu itu Douwes Dekker menjadi pimpinannya, sehingga hal ini sangat mendukung mereka untuk menuangkann pikiran dan unek-unek yang ada didalam koran berita tersebut. Dengan adanya kesempatan untuk sering berkumpul maka mereka akhirnya mendidirkan Boedi Oetomo. Organisasi ini adalah orgnisasi yag memperjuangkan masalah kebudayaan dan identitas Jawa saja dan kemudian berkembang dan membentuk cabang-cabang di daerah-daerah seperti di Bandung, Surabaya, Betawi dll.[2] Namun dalam tubuh Budi Utomo terdapat berbagai perbedaan pandangan antara Priyayi rendahan dan priayi ningrat. Sehingga ahirnya mereka terpecah menjadi 2 . Orang-orang yang keluar dari Budi utomo beranggapan bahwa masalah utama disini adalah penjajahan dari Bngas Eeropa, dan kemudian mereka bergabung dengan Douwes Dekker.
Kolaborasi antara kaum elit Indonesia dengan orang-orang Indo tersebut meghasikan suatu organisasi yang diberi nama dengan Indische Partij. Indische Partij ini adalah oraganisasi yang memperjuangkan tentang masalah kemerdekaan dan mnentukan dan mengatur sendiri tanah airnya sendiri.[3] Indische partij ini telah memasukan unsur-unsur politik terhadap organisasinya yang mempermasalhka antara penjajajh dan orang yang dijajah. Unutk perkembangan selanjutnya yaitu dengan adnya khawatiran muncuknya perang, yang membahayahan wilayah Hindia ini. Untuk itu dibentuklah suatu panitia yang dimana dalam kepanitian tersebut duduk masing-masing dari perwakinlan oranisasi-orgaanisasi. Tujuan dibentuknya adalah untuk menjaga pertahanan Hindia. Akhirnya panitia ini pergi ke Belanda untuk mengusulkan pembentukan wadah tersebut yang menampung segala aspirasi rakyat didalam pmerintahan. Al hasil berdirilah Volksraad yang menampung perwakilan-perakilan dari berbagai organisasi-organisasi Bumiputra yang di harapkan pemerintah bisa bekerja sama dengan pemerintah yang beraliran etika.Vorlksraad adalah dewan penasehat pemerintah Hindia-Belanda yang terdiri dari orang-orang Pribumi, namun keberadaanya sebagai dewan perwakilan rakyat atu penasehat pemerintah hanyalah omong kosong pemerintah Hindia-Belanda saja, pada dasarnya pemerintah tidak pernah mendengarkan aspiasi rakyat. Oleh karena itu salah satu Organisasi yang ada dalam Volksraad tersebut ada yang menjadi radikal, yaitu Budi Utomo yang akhirnya menentang pemerintah Hindia-Belanda. Tunutan Budi utomo adalah diubahnya Dewan Rakyat atau Volksraad yang hanya berfungsi sebagai penasehat menjadi sebauah parlementer. Organisasi lain yang menentang adalah Sarikat Islam yang didirikan oleh Haji Umar Said Cokroaminoto. Pada awalnya organisasi ini hanyalah organisasi yang bergerak dibidang perdangan dan berkembang pesat hingga mempunyai cabag-cabang didaerah-daerah dan dan menggalang persatuan. Perkembangan selanjautnya organisasi ini adalah menuntut agar diberikan Otonomi daerah seluas-luasnya dan diberi wewenang untuk membuat pemerintah daerah pada masyarakat Indonesia. Pada mulanya organsasi ini memang hanya bebrgerak untuk kepentingan kelompok atau daerah tetapi pada akhirnya SI mengakui persatuanIndonesia sehigga ia merubah nama Si menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia.[4]
Organisasi kebangasaan lainya yang muncul adalah organisasi Pemuda Indonesia. Organisasi ini adalah organisasi pemuda yang mengikat mahsiswa di indonesia yang pertama dengan nama Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia organisasi pemuda ini berawal dari terbentuknya organsasi-organisasi penuda yang bersifat kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Batavia dll. Organisasi ini meleburkan diri menjadi satu dengan nama Jong Indonesia yang bertujuan untuk memananmkan Nasionalisme untuk mewujudkan Indonesia Raya. Organisasi ini juga yang sangat berani dan mengadakan sidang kongres pemuda yang dilakukan di lapangan Banteng, Jakarta, dilanjutkan dan di adakan di Medan Merdeka Utara dan yang terakhir diadakan di Indonische Studie Club di jalan Kramat no.106. sidang terahir inilah yang sangat menjadikan hari sangat bersejarah karena disidang ini ditutup dengan diadakan dengan istilah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Disini jugalah pertama kalinya dinyayikan lagu Indonesia Raya.[5]
Kesadran kebangsaan yang mucul dari bangsa Indonesia pada akhirnya dapat membuahkan kemerdekaan yang dapat kita nikmati pada masa sekarang ini. Kemerdekaan ini tidak mungkin tercapai tanpa adanya kesadaran kebangsaan dari para pendiri batu utama pondasi bangsa Indonesia.
[1] Robert Van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia (terjemahan), Jakarta: Pustaka Jaya, 1984. Hal. 76.
[2] R.Z. Leirissa. Op.cit, Hal. 44
[3] W.F. Wertheim, Masyarakat Indonesia Dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial.(Yogyakarta: Tiara Wacana. 1999). Hal 260.
[4] R.Z. Leirissa.Op. Cit, Hal. 50.
[5] Ibid, Hal. 64